Aksi protes besar yang dipicu merosotnya nilai mata uang rial Iran juga berlangsung di kalangan diaspora di Jerman. (EPA-EFE)
HRANA: Lebih dari 6.100 Orang Tewas dalam Penindakan Aksi Protes di Iran
Willy Haryono • 27 January 2026 14:23
Teheran: Sebuah kelompok aktivis hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 6.126 orang tewas akibat tindakan keras otoritas Iran dalam menekan aksi protes nasional yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Jumlah korban tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena banyak korban yang hingga kini belum teridentifikasi secara resmi.
Dilansir dari TRT World, Selasa, 27 Januari 2026, data terbaru tersebut dirilis sebuah lembaga pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA).
HRANA mengklaim telah memverifikasi setiap kematian melalui jaringan aktivis dan relawan di lapangan, meskipun akses informasi di Iran sangat terbatas akibat pemutusan jaringan internet serta gangguan komunikasi oleh pemerintah.
Dalam laporannya, HRANA menyatakan bahwa verifikasi dilakukan melalui dokumentasi identitas korban, kesaksian keluarga, serta bukti visual yang dikumpulkan secara terbatas dari berbagai wilayah di Iran.
Sementara itu, pemerintah Iran merilis angka yang jauh lebih rendah. Otoritas Teheran mengklaim total korban tewas akibat kerusuhan nasional mencapai 3.117 orang. Dari jumlah tersebut, pemerintah menyebut 2.427 orang terdiri dari warga sipil dan aparat keamanan, sementara sisanya dikategorikan sebagai anggota kelompok teroris.
Perbedaan signifikan antara data pemerintah dan laporan aktivis ini memicu keraguan di kalangan pengamat internasional. Sejumlah analis menilai bahwa otoritas Iran kerap tidak melaporkan angka korban secara transparan atau sengaja menekan jumlah kematian dalam peristiwa kerusuhan besar untuk meredam tekanan politik dan kecaman global.
Upaya verifikasi independen terhadap jumlah korban hingga kini masih sulit dilakukan. Kendala utama adalah kebijakan pemerintah Iran yang membatasi akses media asing serta menutup jalur komunikasi internasional secara ketat.
Kondisi tersebut membuat organisasi berita global, lembaga kemanusiaan, dan pemantau independen kesulitan mengonfirmasi baik data resmi pemerintah maupun laporan dari kelompok aktivis di lapangan.
Situasi keamanan di Iran terus menjadi perhatian dunia internasional, terutama terkait penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat keamanan dalam menangani demonstrasi yang dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi tinggi, serta ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Iran Tangkap Lebih dari 200 Terduga Perusuh dan Provokator di Sejumlah Wilayah