Ilustrasi, program waste to energy. Foto: dok Danantara.
Proyek WtE Danantara Berpotensi Serap 130 Ribu Tenaga Kerja, Diutamakan Pekerja Lokal
Husen Miftahudin • 4 July 2026 14:42
Jakarta: PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi yang merupakan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, berupaya mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal dalam pengembangan proyek pengelolaan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE).
Chief Executive Officer (CEO) Denera Fadli Rahman mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi aspek penting dalam implementasi proyek Waste-to-Energy, baik pada tahap pembangunan maupun pengoperasian fasilitas.
"Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal," ujar Fadli dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 4 Juli 2026.
Danantara Indonesia memproyeksikan setiap fasilitas Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 tenaga kerja selama tahap konstruksi.
Secara nasional, direncanakan akan dibangun 33 fasilitas PSEL di berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu, kebutuhan tenaga kerja mulai dari tahap pembangunan hingga operasional diperkirakan mencapai 130 ribu orang.
Fadli menilai persoalan pengelolaan sampah telah berkembang menjadi isu generasional yang berdampak terhadap kualitas hidup masyarakat pada masa mendatang.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung berbagai upaya penanganan sampah, mulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga hingga penerapan teknologi pengolahan sampah modern.
"Mari kita bersama-sama mendukung setiap upaya yang dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia," ajak Fadli.
| Baca juga: Zulhas Bidik 80% Masalah Sampah Nasional Bakal Beres 2029 |

(Ilustrasi tumpukan sampah yang siap diolah menjadi energi listrik. Foto: dok Istimewa)
Masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan sampah
Dalam kesempatan terpisah, Sustainability Provocateur sekaligus Founder Social Investment Indonesia Jalal mengatakan pembangunan fasilitas Waste-to-Energy perlu diiringi dengan penguatan budaya pemilahan sampah di rumah tangga, kawasan komersial, dan sektor industri.
Menurut dia, tantangan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga karakteristik sampah di Indonesia yang didominasi bahan organik dengan kadar air tinggi sehingga memerlukan proses pemilahan sebelum diolah.
Jalal juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat secara bermakna (meaningful engagement) dalam setiap proyek Waste-to-Energy. Menurutnya, masyarakat harus memperoleh manfaat dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial.
"Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun," ucap dia.
"Tanpa itu, Waste-to-Energy berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang justru menjadi fondasi keberlanjutannya," kata Jalal menegaskan.