Awal Pekan, IHSG Dibuka Naik ke Level 6.109

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Awal Pekan, IHSG Dibuka Naik ke Level 6.109

Eko Nordiansyah • 12 October 2026 09:27

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pagi ini mengalami penguatan. Pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin, 12 Oktober 2026, IHSG berada di zona hijau sebesar 6.109,319.

IHSG dibuka menguat 15,56 poin atau 0,26 persen. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,58 poin atau 0,26 persen ke posisi 603,25.

Mengacu data RTI yang terekam hingga pukul 09.20 WIB, IHSG menguat sebanyak 18,839 poin setara 0,31 persen ke level 6.112,598. IHSG berada di level tertinggi 6.128 dan terendah di 6.081.

Sebanyak 314 saham menguat pada perdagangan pagi ini. Adapun sebanyak 239 saham emiten lainnya melemah, dan 202 saham stagnan.

Untuk sementara, total transaksi yang tercatat sebanyak Rp1,385 triliun dengan total saham yang diperdagangkan 7,173 miliar saham. Adapun kapitalisasi pasar mencapai Rp10.758,847 triliun.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

IHSG diperkirakan cenderung mixed

Riset harian FAC Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan akhir pekan lalu, 9 Oktober 2026, IHSG ditutup menguat 62,48 poin atau 1,04 persen ke level 6.093,76. Penguatan IHSG didorong oleh adanya technical rebound setelah tekanan jual sebelumnya, penguatan rupiah, serta membaiknya sentimen bursa Asia.

Kenaikan harga emas turut mendorong saham-saham terkait komoditas, sedangkan penurunan yield US Treasury 10 tahun sebesar 4 basis poin ke 5,23 persen membantu mengurangi tekanan terhadap pasar saham negara berkembang.

Aksi beli yang meluas ke hampir seluruh sektor menunjukkan perbaikan minat investor terhadap aset berisiko domestik.

Sementara itu, Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat, tercermin dari Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 naik 0,59 persen, dan Nasdaq naik 0,64 persen. Penguatan tersebut didorong oleh rebound saham teknologi dan AI, meredanya harga minyak, serta berkurangnya kekhawatiran geopolitik terkait Iran.

Penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Selain itu, pelaku pasar mulai mengantisipasi musim laporan keuangan kuartal III-2026 dan rilis data inflasi AS pada pekan berikutnya, yang akan menjadi indikator penting bagi prospek laba emiten dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

“Menyikapi beragam kondisi tersebut, IHSG diperkirakan cenderung mixed dengan adanya ruang penguatan terbatas. Disaat yang sama, pelaku pasar terus mencermati perkembangan tensi geopolitik Timur Tengah, yield US Treasury, inflasi AS, & arah kebijakan suku bunga The Fed,” sebut analis FAC Sekuritas dalam risetnya.

(Eko Nordiansyah)