Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Kadin Soroti Kesenjangan Keterampilan Tenaga Kerja di Tengah Adopsi AI
Eko Nordiansyah • 15 October 2026 19:10
Jakarta: Kesenjangan keterampilan tenaga kerja menjadi tantangan bagi dunia usaha di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pelaku usaha dan pekerja meningkatkan kompetensi agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri sekaligus menjaga daya saing nasional.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Pekerja tidak cukup hanya menggunakan AI, tetapi juga perlu mempelajari cara mengembangkan teknologi tersebut untuk mendukung produktivitas.
Data World Economic Forum (WEF) dan International Labour Organization (ILO) yang dipaparkan dalam forum ITC Leadership Conclave 2026 di Jakarta menunjukkan, perubahan teknologi berpotensi memengaruhi struktur ketenagakerjaan global.
Hingga 2030, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan tergantikan, sementara sekitar 1,1 miliar pekerja di dunia perlu memperbarui keterampilan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Dalam lima tahun ke depan, sekitar 170 juta pekerjaan juga diproyeksikan mengalami pergeseran struktural. Di sisi lain, 63 persen pemberi kerja menilai kesenjangan keterampilan sebagai salah satu hambatan utama dalam transformasi bisnis.
Kesenjangan keterampilan tantang dunia usaha
Anindya mendorong pimpinan dan pekerja untuk mulai mempelajari pemanfaatan AI secara langsung, termasuk mengembangkan agen AI atau AI agents untuk membantu pekerjaan sehari-hari.Menurut dia, penguasaan teknologi perlu menjadi bagian dari proses adaptasi organisasi. Perusahaan akan kesulitan mengoptimalkan penggunaan AI apabila pekerjanya belum memiliki keterampilan dasar untuk membuat dan mereplikasi agen tersebut.
"Ternyata, kita semua mesti menggunakan laptop untuk belajar membuat agen. Tapi, mesti dianggap seperti kita membentuk, kita punya personal assistant yang baru. Itu mesti kita sendiri yang melakukannya. Nah, karena akan sulit kita mengatakan organisasi menggunakan AI kalau kita semua nggak bisa buat agen atau skills untuk melakukan replikasi,” papar Anindya dalam forum ITC Leadership Conclave 2026 di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Penguasaan keterampilan AI juga berpotensi memberikan keuntungan bagi pekerja. Data yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan, pekerja dengan keterampilan AI memiliki rata-rata gaji 62 persen lebih tinggi dibandingkan pekerja tanpa keterampilan tersebut. Sementara itu, perusahaan yang lebih adaptif dalam menerapkan AI mencatat produktivitas hingga 40 persen lebih tinggi.
Baca Juga :
Bukan Lagi Perang Dagang, Ini Risiko Geopolitik dan Tekanan Ekonomi Global di Era New Normal

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Daya saing dan investasi perlu diperkuat
Selain persoalan keterampilan, Anindya menyoroti daya saing Indonesia dalam menarik investasi. Pemerintah membidik realisasi investasi nasional sebesar Rp2.000 triliun pada 2026 dan Rp2.300 triliun pada 2027. Menurut Anindya, pertumbuhan investasi perlu diiringi kemampuan Indonesia bersaing dengan negara lain, termasuk dari sisi efisiensi dan kenyamanan berusaha.“Kalau dari sisi FDI, masih dalam takaran tumbuh. Mungkin tahun ini Rp 2.000 triliun, tahun depan Rp 2.300 triliun. Nah, kalau menurut saya salah satu alasannya ialah competitiveness,” ujar Anindya.
Ia menambahkan, pelaku usaha perlu menilai apakah Indonesia mampu menawarkan lingkungan bisnis yang lebih kompetitif dibandingkan negara lain.
“Ujung-ujungnya, are we more competitive than the next guy? Dan yang kedua, is it more comfortable to do business here atau tempat lain?” tutur dia.
Mismatch tenaga kerja perlu diatasi
Tantangan lain yang disoroti Anindya ialah ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri atau mismatch tenaga kerja. Setiap tahun, sekitar empat juta hingga lima juta pencari kerja baru memasuki pasar kerja, sementara dunia usaha membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai.Penyelarasan kompetensi menjadi penting agar kebutuhan industri dapat bertemu dengan ketersediaan talenta. Upaya tersebut juga perlu berjalan beriringan dengan adaptasi teknologi sehingga pekerja mampu menghadapi perubahan jenis pekerjaan.
Di tengah perkembangan AI, Anindya turut mengingatkan pentingnya kecerdasan emosional atau emotional intelligence. Pemanfaatan teknologi, menurut dia, tetap perlu berorientasi pada manusia dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Dengan peningkatan keterampilan, penguatan daya saing, dan penyelarasan kebutuhan tenaga kerja, adopsi AI diharapkan dapat mendukung produktivitas perusahaan sekaligus memperkuat daya saing ekonomi Indonesia. (Selsha Septifanie Gunawan)