Bukan Lagi Perang Dagang, Ini Risiko Geopolitik dan Tekanan Ekonomi Global di Era New Normal

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan

Bukan Lagi Perang Dagang, Ini Risiko Geopolitik dan Tekanan Ekonomi Global di Era New Normal

Eko Nordiansyah • 15 October 2026 17:50

Jakarta: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menegaskan risiko geopolitik kini menjadi ancaman serta tantangan teratas bagi kompetisi global di era new normal. Eskalasi ketegangan antarnegara dinilai berdampak langsung terhadap ketidakpastian pasar keuangan dan dinamika investasi nasional.

"Kompetisi global dalam new normal ini, risiko teratas adalah geopolitik," kata Anindya dalam forum ITC Leadership Conclave 2026 di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.

Anindya memaparkan lanskap persaingan internasional telah mengalami pergeseran bentuk yang sangat drastis dan eskalatif hanya dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Jika pada awal masa kepengurusannya di Kadin fokus dunia lebih banyak tertuju pada konflik perdagangan, kini peta ketegangan telah berubah menjadi peperangan fisik secara terbuka.

"Jadi di awal, waktu kami mulai kepengurusan Kadin dua tahun yang lalu, kalau kita bicara perang, itu bicaranya perang dagang. Tapi sekarang benar-benar perang fisik, yang bukan saja Ukraina lawan Rusia, tapi di Timur Tengah, bahkan beberapa waktu yang lalu, juga serangan sampai ke Riak yang kita selalu mengatakan, kalau misalkan di Arabia itu tidak terkenal lah, perurusan Timur Tengah," ujar dia.

Ia menambahkan, survei pelaku ekonomi global menunjukkan bahwa guncangan dan ketidakpastian ini diperkirakan tidak akan mereda dalam waktu dekat, melainkan terus berlanjut hingga beberapa tahun mendatang.

"Jadi memang geopolitik ini, bukan saja menjadi suatu tantangan, tapi juga ke depannya, dua tahun ke depan, 50 persen mengatakan, ini akan terus menjadi tantangan. Jadi upaya Indonesia memainkan, mudah-mudahan, bebas aktif ini akan diuji, bagaimana bisa meratifikasi semua ini," tegas Anindya.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Dampak ke ekonomi domestik

Anindya menyebut tekanan geopolitik global tersebut memicu dampak lanjutan terhadap indikator makroekonomi domestik, terutama pada arus modal asing dan pasar keuangan nasional. Menurutnya, ekonomi nasional saat ini menunjukkan adanya kontradiksi yang menarik perhatian para pelaku usaha.

Di satu sisi, fondasi makroekonomi Indonesia tampak stabil dengan angka pertumbuhan (growth) mencapai 5,6 persen, sementara rata-rata pada paruh pertama berada di angka 5,4 persen, serta inflasi dan rasio utang yang relatif terkendali. Namun di sisi lain, pasar keuangan justru dihadapkan pada guncangan berat akibat keluarnya modal asing secara masif serta tekanan pada pergerakan saham dan nilai tukar.

"Nah, tekanan ekonomi, ya tentu menjadi dampak lanjutan daripada ini semua. Bayangkan saja, kita mengatakan growth 5,6, lalu kalau first half 5,4 rata-rata. Tapi kok kita melihat, banyak yang menanyakan, gimana investasi asing ke pasar modal, keluar USD5 miliar. Dan IHSG, salah satu yang paling dalam, 31 persen, lalu ditambah dengan, exchange rate mungkin bisa mendekati 40 persen," jelas dia.

Anindya menambahkan, kondisi tersebut menciptakan kebingungan di tingkat global, mengingat indikator fundamental Indonesia sebenarnya menunjukkan performa yang cukup baik di tengah berbagai tantangan sosial dan bencana alam yang melanda.

Tekankan pengusaha jaga daya saing dan iklim investasi

Guna menghadapi ketidakpastian geopolitik dan gejolak pasar finansial tersebut, Anindya menekankan pentingnya bagi dunia usaha dan pemerintah untuk fokus pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan (what we can control), terutamanya daya saing (competitiveness) dan iklim kemudahan berinvestasi.

“Kembali lagi, kita semua, pimpinan perusahaan-perusahaan, pertanyaannya kita lebih kompetitif dibanding toko sebelah atau tidak. Dan yang kedua, tentu pertanyaannya kenyamanan bermitra, berinvestasi. Di sini lebih nyaman atau tidak,” tutur dia.

Ia menambahkan, kapasitas pasar domestik yang besar saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan perbaikan iklim usaha. Perusahaan-perusahaan di Indonesia dituntut untuk terus mengevaluasi efisiensi internal agar tetap mampu bertahan dan unggul di tengah sengitnya kompetisi pasar global.

“Ujung-ujungnya, are we more competitive than the next guy? Dan yang kedua, is it more comfortable to do business here, atau di tempat lain?" kata Anindya. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)