Ilustrasi. Foto: Magnific.
Dari Riset Biomedis hingga Farmasi, Ilmuwan asal Indonesia Diakui Dunia
Ade Hapsari Lestarini • 7 November 2026 19:01
Jakarta: Guru Besar Farmakologi Molekuler Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sekaligus Farmakolog Molekuler Dexa Group, Prof. Raymond R. Tjandrawinata, masuk dalam kelompok 7,9 persen ilmuwan teratas pada pemeringkatan Top 1000Scholar 2026.
Dalam kategori Diverse Scientific Research Studies (Biomedical, Law and Theology), Prof. Raymond tercatat memiliki H-index 29. Berdasarkan profil akademiknya di Scholarly Index, ia juga memiliki 266 publikasi ilmiah dan 3.279 sitasi, dengan Impact Score 80,76.
Pada kategori lain, yakni Tannin, Tannase and Anticancer Activities, Prof. Raymond menempati peringkat ke-107 dunia dan peringkat pertama di Indonesia.
"Pemeringkatan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Setiap pencapaian merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak peneliti, institusi, dan kolaborator. Kita membutuhkan lingkungan penelitian yang kuat, sumber daya manusia yang kompeten, serta teknologi yang memadai agar dapat menghasilkan inovasi yang mampu bersaing secara global," ungkap Raymond, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 7 November 2026.
Dari NASA hingga industri farmasi
Perjalanan akademik Raymond membawanya ke sejumlah institusi penelitian internasional. Pada 1991, ia terlibat dalam proyek Spacelab Life Sciences (SLS-1) yang diinisiasi oleh astronaut NASA, Dr. Millie Hughes-Fulford. Penelitian tersebut mengkaji osteoporosis pada astronaut dalam kondisi gravitasi nol melalui misi pesawat ulang alik.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam penelitian biomedis. Setelah menyelesaikan pendidikan pascadoktoral di University of California, San Francisco, Prof. Raymond mengembangkan karier dalam penelitian obat berbasis bahan sintetik organik.
Ia juga pernah berkontribusi di industri farmasi GlaxoSmithKline di California sebelum kembali ke Indonesia pada awal 2000-an.
Pengalaman akademik dan profesional tersebut memperluas perspektifnya dalam penelitian farmasi, mulai dari eksplorasi molekul, pengembangan kandidat obat, hingga penerapan hasil penelitian.
Latar belakang pendidikan Prof. Raymond mencerminkan ketertarikannya pada berbagai disiplin ilmu. Ia meraih gelar sarjana Fisiologi dari University of the Pacific, kemudian magister dan doktor Biokimia dari University of California, Riverside. Prof. Raymond juga menyelesaikan penelitian pascadoktoral di bidang Farmakologi Molekuler di University of California, San Francisco.
Selain ilmu biomedis, ia mendalami manajemen bisnis strategis melalui program MBA di Edward S. Ageno School of Business, Golden Gate University.
Ketertarikannya terhadap hubungan antara inovasi dan kepentingan masyarakat juga membawanya mendalami ilmu hukum. Pada 15 September 2026, Prof. Raymond meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Pelita Harapan (UPH) dengan predikat Summa Cum Laude. Disertasinya berjudul "Pembadanan Model Paten Farmasi Progresif yang Berkeadilan dalam Sistem Hukum Kekayaan Intelektual".
Penelitian tersebut membahas perlindungan paten farmasi dengan mempertimbangkan keseimbangan antara insentif bagi inovasi dan akses masyarakat terhadap obat. Perspektif lintas disiplin ini memperlihatkan pengembangan obat tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmiah, tetapi juga regulasi, perlindungan kekayaan intelektual, dan keterjangkauan pengobatan bagi pasien.

Guru Besar Farmakologi Molekuler Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sekaligus Farmakolog Molekuler Dexa Group, Prof. Raymond R. Tjandrawinata. Foto: Dexa Group.
Mengembangkan potensi bahan alam Indonesia
Salah satu fokus penelitian Raymond di Indonesia adalah pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI). Bersama para peneliti di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), ia mengembangkan OMAI sejak 2005 dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber penelitian dan inovasi obat.
Pengembangan bahan alam menjadi produk farmasi membutuhkan pendekatan ilmiah yang terukur. Prosesnya mencakup identifikasi dan penapisan bahan aktif, standardisasi, pengujian keamanan, hingga pembuktian khasiat melalui penelitian dan pengujian sesuai ketentuan.
Di DLBS, pendekatan tersebut didukung penguasaan bioteknologi dan farmakologi molekuler, termasuk pemanfaatan berbagai pendekatan omics seperti genomics, proteomics, dan metabolomics untuk mengeksplorasi potensi bahan alam Indonesia.
Melalui pendekatan tersebut, bahan alam yang selama ini dikenal melalui pemanfaatan empiris dapat dikaji lebih lanjut untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi berbasis bukti ilmiah. Hasil penelitian juga diarahkan agar berpeluang dikembangkan menjadi produk farmasi yang memenuhi standar mutu, keamanan, dan persyaratan regulasi.
Proses tersebut membutuhkan kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, dan industri farmasi. Hasil penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi perlu dilanjutkan melalui pengembangan dan pengujian agar berpeluang memberikan manfaat dalam pelayanan kesehatan.
Sepanjang perjalanan akademiknya, Prof. Raymond menerima sejumlah pengakuan atas kontribusinya dalam penelitian dan inovasi kesehatan. Di antaranya Habibie Award bidang Kedokteran dan Bioteknologi, WIPO Medal for Inventor dari World Intellectual Property Organization, serta SINTA Award dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Pada 2026, ia juga memperoleh pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui rekor Peneliti dengan Publikasi Scopus dan Paten Terbanyak dalam Bidang Ilmu Biomedis Interdisipliner.
Berdasarkan catatan MURI yang dipublikasikan pada 20 April 2026, Prof. Raymond memiliki 222 publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus. Hingga saat ini, ia juga telah memperoleh sedikitnya 88 paten yang diakui secara nasional maupun global. Berbagai pencapaian tersebut melengkapi kiprahnya dalam mengembangkan penelitian biomedis, inovasi farmasi, dan penguatan ekosistem riset di Indonesia.
Riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat
Bagi Raymond, pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi farmasi, dan perlindungan hasil penelitian memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan dan pengobatan.
Pengembangan inovasi kesehatan membutuhkan keterhubungan antara riset, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan produk, serta akses masyarakat terhadap obat yang aman, bermutu, dan terjangkau.
Perjalanan akademik dan profesionalnya di bidang biomedis, farmakologi molekuler, bisnis, dan hukum memperlihatkan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam menjawab tantangan tersebut.
Di tengah kebutuhan inovasi kesehatan yang semakin kompleks, tantangan ilmuwan Indonesia adalah membangun kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan dan potensi sumber daya nasional menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat.