AS Setujui Penjualan 10.000 Sistem Roket ke UEA Senilai Rp17 Triliun

Sistem rudal patriot milik Amerika Serikat. (Anadolu Agency)

AS Setujui Penjualan 10.000 Sistem Roket ke UEA Senilai Rp17 Triliun

Muhammad Reyhansyah • 6 October 2026 12:23

Washington: Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan senjata senilai USD1 miliar atau sekitar Rp17,91 triliun kepada Uni Emirat Arab (UEA) berupa 10.000 unit sistem pemandu Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) untuk roket.

Departemen Luar Negeri AS mengumumkan persetujuan tersebut pada Senin, 5 Oktober 2026.

“Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Uni Emirat Arab dalam menghadapi ancaman saat ini dan mendatang melalui pengembangan dan pemeliharaan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap, serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Channel News Asia.

Menurut departemen tersebut, penjualan itu juga akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan salah satu mitra pertahanan utama Washington.

APKWS merupakan sistem yang mengubah roket tanpa pemandu menjadi amunisi berpemandu presisi. Sistem tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk menembak jatuh drone.

Penggunaan sistem itu memungkinkan negara pengguna menghindari pengerahan rudal berbiaya tinggi untuk menembak jatuh pesawat tanpa awak yang relatif lebih murah.

UEA dan sejumlah negara Teluk lainnya yang menjadi sekutu AS terdampak perang dengan Iran. Dalam konflik tersebut, pasukan Iran berulang kali menargetkan negara-negara tersebut menggunakan drone dan rudal.

Di hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS juga menyetujui penjualan senilai USD400 juta kepada Kuwait untuk layanan “perbaikan dan pengembalian” rudal Patriot.

Sistem Patriot disebut memainkan peran penting dalam menghadapi serangan Iran di kawasan.

“Kuwait akan menggunakan peningkatan kemampuan tersebut untuk memperkuat pertahanan dalam negerinya” dan “tidak akan mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan barang dan layanan tersebut ke dalam angkatan bersenjatanya,” kata Departemen Luar Negeri AS.

Baca juga: AS Hadapi Kekurangan Rudal Patriot yang Sangat Kritis di Eropa

(Willy Haryono)