Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.
APINDO Dorong Insentif Pemerintah Menyasar Kelas Menengah
Arga Sumantri • 8 October 2026 11:55
Jakarta: Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mendorong pemerintah memperhatikan daya beli kelas menengah dalam pemberian insentif. Hal ini dinilai penting di tengah adanya penurunan kelas menengah yang berdampak terhadap daya beli masyarakat.
Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani mengatakan kondisi daya beli masyarakat menjadi salah satu perhatian dunia usaha. Hasil survei yang dilakukan APINDO juga menunjukkan adanya pengaruh terhadap daya beli masyarakat.
"Ini makanya yang kita sampaikan kepada pemerintah, memang insentif itu juga harus dilihat dari sisi daya beli ini. Dan mungkin kelas menengah ini, yang penurunan kelas menengah itu menjadi satu faktor bahwa insentif juga harus ditargetkan juga untuk kelas menengah," kata Shinta di sela acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi hal penting yang perlu diperhatikan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. APINDO mengatakan akan terus memantau hasil kebijakan yang disampaikan pemerintah kepada DPR.
Dalam pemaparannya, Shinta sempat menyoroti kondisi permintaan (demand) yang berasal dari pasar ekspor maupun domestik. Kondisi daya beli cukup memengaruhi sektor riil.
"Dari dalam negeri yang ada sekarang, kita juga melihat soal daya beli, soal barang-barang ilegal yang masuk dan memengaruhi demand yang ada," ujar dia.
Shinta mengatakan persoalan pada sisi pasokan dan permintaan menciptakan tekanan bagi sektor riil. "Jadi kita melihat ada satu disrupsi besar dari segi supply dan demand," kata dia.

Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Kondisi Geopolitik hingga Biaya Logistik Bikin Sektor Riil Tertekan
Ia juga mengatakan perubahan kondisi geopolitik dan global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sektor riil."Yang menjadi faktor sangat penting perubahannya memang ada di kondisi geopolitik, kondisi global, di mana ini sangat berpengaruh terhadap sektor riil," ujar Shinta.
Menurut Shinta, terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian dalam melihat kondisi industri saat ini. Salah satunya ialah keterbatasan bahan baku yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dan akses, tetapi juga harga.
"Beberapa aspek penting, pertama kalau kita melihat dengan kondisi yang ada, memang yang menjadi faktor yang sangat penting saat ini adalah keterbatasan bahan baku, ini kunci banget," tutur dia.
Shinta bilang, kenaikan harga bahan baku dan tarif yang signifikan turut menambah tekanan terhadap sektor industri. "Keterbatasan bahan baku ini tidak hanya accessibility atau jumlah bahan baku, tapi juga dari segi harga, kenaikan tarif yang begitu signifikan," jelasnya.
Selain bahan baku, Shinta menyoroti peningkatan biaya logistik yang turut menjadi tantangan bagi industri. Menurut dia, kondisi tersebut dapat memengaruhi efektivitas insentif yang diberikan pemerintah, khususnya untuk sektor padat karya.
"Kemudian dari aspek sisi logistic cost yang multiplying, jadi kalau kita lihat ini sangat berpengaruh. Jadi insentif yang kemudian didorong oleh pemerintah untuk sektor-sektor padat karya, mungkin tidak bisa langsung terealisasi dari sisi itu," jelas Shinta.
(Tiaranissa Juliansyah)