Acara Future by Design yang diselenggarakan AAJI, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.
AI Mulai Digunakan di Industri Asuransi, OJK Tekankan Peran Manusia
Husen Miftahudin • 7 October 2026 15:30
Jakarta: Pemanfaatan artificial intelligence (AI) di industri asuransi jiwa mulai digunakan dalam berbagai proses bisnis, mulai dari underwriting, penghitungan premi, hingga penilaian klaim. Meski demikian, keputusan yang berdampak langsung kepada nasabah tetap perlu berada dalam pengawasan manusia.
Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono mengatakan pemanfaatan AI membutuhkan kepemimpinan strategis agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Menurut dia, pimpinan perusahaan perlu memahami tujuan penggunaan AI, tingkat kepentingannya dalam bisnis, hingga pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan.
"AI tanpa leadership hanyalah teknologi, tetapi leadership yang memahami AI dapat mengubah teknologi menjadi sebuah strategi," ucap Sumarjono dalam keterangan program Future by Design yang diselenggarakan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, dikutip Rabu, 7 Oktober 2026.
"Pemanfaatan AI dalam underwriting, claims management, fraud detection, customer service, distribution, maupun product development pada akhirnya merupakan keputusan strategis dan bisnis yang menjadi tanggung jawab institusi," sambung dia.
(Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah)
AI tetap perlu pengawasan manusia
Sumarjono menekankan penerapan AI di industri asuransi perlu menggunakan prinsip human-in-the-loop, yakni tetap melibatkan manusia dalam proses yang memberikan dampak langsung kepada nasabah. Dengan prinsip tersebut, AI tidak sepenuhnya mengambil keputusan secara mandiri.
Pengawasan manusia diperlukan dalam sejumlah proses, seperti underwriting, penghitungan premi, hingga penilaian klaim. Hasil yang diberikan AI tetap perlu ditinjau untuk kemudian disetujui, disesuaikan, atau dibatalkan oleh manusia.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan pemanfaatan teknologi dan AI perlu diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja perusahaan, bukan sekadar mengganti atau membeli sistem baru. Menurutnya, pengawasan manusia tetap diperlukan, terutama dalam proses yang dapat berdampak langsung kepada nasabah.