Ukraina Tuduh AS Bantu Rusia saat Rudal Hantam Kyiv

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Anadolu

Ukraina Tuduh AS Bantu Rusia saat Rudal Hantam Kyiv

Fajar Nugraha • 15 October 2026 08:39

Kyiv: Ukraina menuduh Amerika Serikat (AS) membantu Rusia karena gagal memperingatkan mereka akan serangan rudal yang datang.

Selain itu, Ukraina juga menuduh AS menghambat respons militer Kyiv melalui perubahan pada sistem Starlink yang digunakan di medan perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta miliarder teknologi AS, Elon Musk, untuk memulihkan layanan Starlink, yang menurut Kyiv telah melambat.

"Saya berharap ini adalah sebuah kesalahan, mungkin masalah teknis yang sangat besar," ujar Zelensky kepada jurnalis Inggris, Piers Morgan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis 15 Oktober 2026.

"Saya tidak tahu, tetapi kami meminta agar hal itu dilakukan, agar layanan itu diaktifkan kembali,” imbuh Zelensky.

Mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, kemudian mengatakan bahwa "operasi Starlink dengan kecepatan hingga 160 km/jam sedang dipulihkan. Drone penyerang dan drone pencegat seharusnya bisa terbang kembali."

Musk menyatakan bahwa gangguan apa pun merupakan tanggung jawab pemerintah AS, bukan perusahaannya, SpaceX.

Ia membedakan antara sistem Starshield, yang diandalkan Ukraina untuk komunikasi di medan perang dan sistem satelit sipil Starlink yang berjalan paralel; sistem sipil ini juga digunakan oleh Ukraina namun tidak diizinkan untuk operasi ofensif.

"Sistem Starshield dimiliki dan dikendalikan oleh pemerintah AS. Segala batasan kecepatan atau penggunaan diputuskan oleh militer AS dan pada akhirnya oleh POTUS," kata Musk, merujuk pada Presiden AS Donald Trump.

Zelensky membenarkan hal tersebut saat ditanya apakah ia merasa "dikhianati" setelah Trump mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dengan Moskow, yang sedang dikenai sanksi berat.

"Menyakitkan rasanya ketika Presiden Trump memilih satu pihak, dan bukan pihak kami," ujar Zelensky.

"Menurut saya, para penasihatnya keliru. Saya tidak tahu siapa yang mendorongnya ke arah yang salah. Ini bukan berada di sisi sejarah yang benar,” kata Zelensky.

Zelensky menyebut tidak adanya peringatan dari pihak sekutu mengenai gelombang serangan dahsyat pada Selasa malam hingga Rabu dini hari sebagai tindakan yang "sangat tidak adil". Ia juga menuduh Rusia dengan sengaja melanggar apa yang disebut sebagai "gencatan senjata energi"—sebuah kebijakan yang diumumkan secara sepihak oleh Trump.

Seorang pejabat senior di Kyiv mengonfirmasi bahwa dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat sempat mengancam akan menghentikan penyediaan intelijen terkait peluncuran rudal Rusia, informasi yang selama ini digunakan Ukraina untuk menggagalkan serangan. Pada hari Selasa, Trump membantah telah melakukan hal tersebut.

Para pejabat pertahanan juga mengindikasikan bahwa Washington berada di balik penurunan kecepatan akses pada sejumlah terminal internet yang selama ini membantu militer Ukraina menyerang wilayah yang diduduki Rusia serta mengoperasikan pesawat nirawak pencegat.

"Jelas sekali bahwa mereka (Amerika Serikat) entah mengapa justru membantu Rusia," ujar pejabat senior tersebut kepada AFP.

Penasihat Zelensky, Sergiy Beskrestnov, menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut dan pembatasan layanan Starlink bukanlah sebuah kebetulan.

"Melalui tindakan mereka, mitra-mitra kita telah menghilangkan salah satu dari sedikit peluang yang kita miliki untuk mempertahankan negara dari serangan drone Shahed bermesin jet," tulisnya di Telegram.


Komunikasi intensif

Di Moskow, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Rusia terus memantau apakah ada perubahan dalam dukungan Washington terhadap Ukraina.

"Kami mencermati semua ini dengan saksama. Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang bersifat sistemik," ujarnya kepada para wartawan.

Sementara itu, utusan khusus Presiden Vladimir Putin untuk kerja sama ekonomi, Kirill Dmitriev, mengungkapkan bahwa kontrak pertama untuk pasokan bahan bakar diesel ke Amerika Serikat akan ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.

"Kami terus berkomunikasi secara intensif, bahkan dari jam ke jam, dengan pihak Amerika, dan segalanya bergerak dengan sangat cepat," tambah Dmitriev.

Trump, yang akan menghadapi pemilihan paruh waktu yang krusial bulan depan, menyalahkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia sebagai penyebab terbatasnya pasokan bahan bakar dan kenaikan harga BBM di tingkat konsumen.

(Fajar Nugraha)