Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi. Metrotvnews.com/Afifah Alfina
Guru PAUD dan SD Dituntut Lebih Peka soal Disabilitas Tak Tampak pada Anak
Metro TV • 11 October 2026 22:34
Jakarta: Penanganan isu disabilitas tak tampak (invisible disability) pada anak memerlukan perhatian khusus dari lembaga pendidikan, terutama di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD). Banyak kasus disabilitas mental maupun intelektual yang tidak terdeteksi sejak awal karena tidak menunjukkan gejala fisik secara kasatmata.
“Menurut saya, yang penting adalah sektor sektor pendidikan, itu harus juga aware. Guru-guru harus tahu sebenarnya, guru-guru PAUD, kelas 1, kelas 2 itu sudah harus tahu, Oh, mungkin kayaknya kamu punya murid yang disleksia, aku punya murid yang kayaknya autism,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu, 10 Oktober 2026.
Pentingnya peran tenaga pendidik dalam melakukan pengamatan dini sangat krusial agar intervensi tumbuh kembang dapat dilakukan selagi anak berada pada masa emasnya.
“Guru TK, guru SD, dan guru SD ini harusnya kalau lihat teorinya, maksimal kelas 2. Kalau kelas 2 dia enggak bisa sesuai dengan umurnya, harusnya segera diterapi,” jelas Imran.
Imran menjelaskan tantangan penanganan disabilitas kini makin kompleks seiring tingginya proporsi kasus disabilitas tak kasatmata. Jika disabilitas fisik dan sensorik lebih mudah dikenali dari penampilan luar, ragam disabilitas mental, serta intelektual kerap tidak disadari oleh lingkungan sekitar.
“Jadi kalau kita bilang disabilitas itu kan ada empat, ya. Ada fisik, sensorik, mental sama intelektual. Nah, ternyata sekarang yang paling banyak itu justru dua disabilitas ini, disabilitas mental sama disabilitas intelektual, ya,” tutur Imran.

Sejumlah siswa SD Negeri 005 Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang, Kepri, asik bermain pada jam istirahat sekolah. ANTARA/Ogen
Tingginya prevalensi disabilitas mental dan intelektual pada anak memerlukan perhatian kolektif antara sektor kesehatan, pendidikan, dan masyarakat. Tanpa pemahaman yang memadai, anak dengan masalah kesehatan mental seringkali terlewat dari perhatian medis.
“Itu memang suatu hal yang perlu kita perhatikan bersama. Kenapa? Karena tadi jumlahnya di antara yang lain itu paling banyak untuk anak-anak. Dan spektrumnya juga mulai dari yang ringan sampai berat,” ucap Imran.
Imran menyinggung hambatan penanganan yang datang dari orang tua sendiri. Tidak sedikit orang tua yang merasa sulit menerima kondisi anaknya saat terdiagnosis mengalami disabilitas tak tampak seperti autisme atau disleksia.
“(Ada) orang tua yang enggak terima kalau anaknya terdiagnosis autism, disleksia, atau apa, gitu kan. Sehingga yang terjadi adalah pada saat sudah ditemukan pada saat deteksi dini tumbuh kembang, orang tuanya itu nyari pembenaran-pembenaran,” ujar Imran.
Orang tua diimbau segera mencari dukungan komunitas agar mendapatkan edukasi dan penguatan emosional dalam mendampingi sang buah hati. Selain itu, sinergi antara perawatan medis dan penyesuaian pola belajar di sekolah menjadi kunci penting agar anak tetap bisa berkembang secara optimal.
“Jadi orang tuanya, secepat mungkin harus bergabung ke komunitasnya, dengan anaknya, harus mendapatkan penanganan yang benar di sekolahnya, ya kan, terus mungkin dia ada gangguan dengan kesehatan juga harus dirawat,” ujar Imran.
(Afifah Alfina)