Ilustrasi: Pexels
Kenali 6 Etika Berbicara dalam Al-Qur’an yang Perlu Diterapkan dalam Kehidupan
Riza Aslam Khaeron • 30 September 2026 07:00
Jakarta: Umat Islam diajarkan untuk senantiasa menjaga ucapan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap perkataan yang disampaikan kepada orang lain tidak hanya berkaitan dengan isi pesan, tetapi juga cara menyampaikannya.
Al-Qur'an memberikan sejumlah pedoman mengenai etika berbicara. Dalam komunikasi, seorang muslim dianjurkan untuk berkata benar, baik, lembut, hingga menggunakan perkataan yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Konsep etika berbicara dalam Al-Qur'an salah satunya dikenal melalui istilah qaulan yang terbagi menjadi enam bentuk. Enam bentuk tersebut meliputi qaulan sadida, qaulan ma'rufa, qaulan layyina, qaulan baligha, qaulan karima, dan qaulan maisura.
Berikut merupakan enam bentuk dari qaulan:
1. Qaulan Sadida, Perkataan yang Benar
Qaulan sadida berarti perkataan yang benar, lurus, dan tidak menyimpang dari kebenaran. Islam mengajarkan umatnya untuk memastikan ucapan yang disampaikan tidak mengandung kebohongan atau sesuatu yang menyesatkan.Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 70:
.jpg)
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
Ayat tersebut menunjukkan bahwa berkata benar merupakan bagian dari ketakwaan. Oleh karena itu, seseorang perlu mempertimbangkan kebenaran informasi sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
2. Qaulan Ma'rufa, Perkataan yang Baik
Selanjutnya adalah qaulan ma'rufa, yaitu perkataan yang baik dan patut. Etika ini mengajarkan seseorang untuk menggunakan kata-kata yang pantas dalam berkomunikasi, termasuk ketika berada dalam situasi yang membutuhkan kehati-hatian dalam berbicara. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 235:.jpg)
Artinya: "Tidak ada dosa bagimu atas kata sindiran untuk meminang perempuan-perempuan atau (keinginan menikah) yang kamu sembunyikan dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka. Akan tetapi, janganlah kamu berjanji secara diam-diam untuk (menikahi) mereka, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang patut (sindiran). Jangan pulalah kamu menetapkan akad nikah sebelum berakhirnya masa idah. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka, takutlah kepada-Nya. Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."
Pesan utama dari qaulan ma'rufa adalah pentingnya menggunakan perkataan yang baik dan pantas sesuai dengan keadaan. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya memperhatikan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga kelayakan perkataan tersebut untuk disampaikan.
3. Qaulan Layyina, Perkataan yang Lemah Lembut
Qaulan layyina berarti perkataan yang lemah lembut. Al-Qur'an memberikan contoh pentingnya kelembutan dalam berbicara ketika Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. untuk menghadapi Firaun. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Thaha ayat 44:.jpg)
Artinya: "Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut."
Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan dalam berbicara tetap penting bahkan ketika seseorang berhadapan dengan pihak yang memiliki sikap bertentangan dengannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut dapat diterapkan ketika menyampaikan kritik, menegur kesalahan, maupun menyampaikan pendapat kepada orang lain.
4. Qaulan Baligha, Perkataan yang Berbekas
Berikutnya adalah qaulan baligha, yakni perkataan yang dapat memberikan pengaruh atau membekas pada jiwa seseorang. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. An-Nisa' ayat 63:.jpg)
Artinya: "Mereka itulah orang-orang yang Allah ketahui apa yang ada di dalam hatinya. Oleh karena itu, berpalinglah dari mereka, nasihatilah mereka, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya."
Qaulan baligha mengajarkan bahwa perkataan sebaiknya disampaikan dengan cara yang tepat sehingga pesan dapat dipahami dan memberikan pengaruh kepada orang yang mendengarnya.
Dengan kata lain, berbicara bukan sekadar menyampaikan banyak kata, melainkan bagaimana pesan tersebut dapat sampai dan dipahami dengan baik.
5. Qaulan Karima, Perkataan yang Mulia
Qaulan karima berarti perkataan yang mulia. Salah satu penerapannya berkaitan dengan cara seorang anak memperlakukan kedua orang tuanya, terutama ketika mereka telah lanjut usia. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Isra' ayat 23:.jpg)
Artinya: "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
Ayat tersebut menegaskan larangan mengucapkan perkataan yang dapat menyakiti hati orang tua. Bahkan ungkapan kecil yang menunjukkan kejengkelan pun diperintahkan untuk dihindari.
Oleh karena itu, qaulan karima menekankan penghormatan dan kemuliaan dalam berbicara, khususnya kepada kedua orang tua.
6. Qaulan Maisura, Perkataan yang Pantas
Terakhir adalah qaulan maisura. Istilah ini merujuk pada perkataan yang pantas dan mudah diterima, termasuk ketika seseorang tidak dapat memenuhi permintaan orang lain.Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Isra' ayat 28:
.jpg)
Artinya: "Jika (tidak mampu membantu sehingga) engkau (terpaksa) berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang lemah lembut."
Ayat tersebut mengajarkan bahwa ketika seseorang belum mampu memberikan bantuan kepada orang lain, penolakan tetap perlu disampaikan dengan cara yang baik. Ketidakmampuan untuk membantu tidak menjadi alasan untuk berbicara kasar atau merendahkan orang yang meminta bantuan.
Enam bentuk qaulan tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk senantiasa menjaga lisan terhadap setiap perkataan dan silaturahmi yang terjalin. Dengan menerapkan prinsip qaulan dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menjaga silaturahmi dan selangkah menjadi pribadi yang lebih baik.
Demikian penerapan 6 prinsip qaulan dalam kehidupan sehari-hari.
(Yaumil Tianri Rahmi)