Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Ini Penopang Surplus Dagang Nonmigas RI hingga Agustus 2026
Eko Nordiansyah • 1 October 2026 14:20
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan nonmigas Indonesia pada Januari-Agustus 2026 terutama ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan, dengan lemak dan minyak hewani/nabati, serta alas kaki menjadi bagian dari penyumbang utama.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan surplus perdagangan nonmigas terutama berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD24,91 miliar, bahan bakar mineral USD18,84 miliar, besi dan baja USD12,10 miliar, nikel dan barang daripadanya USD8,38 miliar, serta alas kaki USD4,33 miliar.
Dari catatan pihaknya juga, neraca perdagangan kumulatif Januari-Agustus 2026 masih mengalami surplus USD7,25 miliar, yang di antaranya didukung surplus pada Agustus 2026 sebesar USD3,55 miliar.
“Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD21,29 miliar,” jelas Ateng di Jakarta, dikutip dari Antara Kamis, 1 Oktober 2026.
Adapun nilai ekspor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai USD193,64 miliar, meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 5,48 persen menjadi USD185,63 miliar.
Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, yakni USD159,55 miliar atau meningkat 7,87 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
3 negara tujuan ekspor
Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok sebesar USD47,44 miliar atau 25,55 persen, Amerika Serikat (AS) USD22,41 miliar atau 12,07 persen, dan India USD12,77 miliar atau 6,88 persen.Di sisi lain, nilai impor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai USD186,39 miliar, naik 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut berasal dari impor nonmigas yang tumbuh 16,83 persen menjadi USD157,09 miliar dan impor migas yang meningkat 39,03 persen menjadi USD29,30 miliar.
Menurut penggunaan, impor bahan baku/penolong menjadi komponen terbesar dengan nilai USD133,38 miliar atau naik 20,67 persen. Impor barang modal mencapai USD36,75 miliar atau meningkat 18,82 persen, sedangkan barang konsumsi tercatat USD16,27 miliar atau naik 15,48 persen.
Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 dengan nilai USD66,64 miliar atau 42,42 persen. Berikutnya Jepang sebesar USD8,88 miliar atau 5,65 persen dan Australia USD7,31 miliar atau 4,65 persen.