Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono (kanan). Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Inovasi Obat, Kemenkes Pangkas Durasi Terapi Pengobatan TBC jadi 1 Bulan
Metro TV • 30 September 2026 17:33
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memangkas durasi terapi pengobatan tuberkulosis (TBC) melalui inovasi obat terbaru. Langkah ini diambil untuk mendorong pasien menyelesaikan pengobatan secara tuntas tanpa terputus.
"Kita melakukan berbagai macam penelitian dan akhirnya kita memanfaatkan penelitian tersebut dan melahirkan obat yang hanya satu bulan dipakai untuk penyakit tuberkulosis," kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono di Kantor Bakom, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Adapun langkah inovasi ini dipicu oleh maraknya kasus pasien yang berhenti di tengah jalan. Menurut Dante, terhentinya pengobatan memicu risiko resistensi kuman TBC yang berujung pada meningkatnya angka kematian.
“Yang menjadi masalah adalah obat tuberkulosis itu pengobatannya lama, compliance dan kepatuhan pasiennya itu jelek. Jadi akhirnya pasiennya banyak yang putus obat. Kalau putus obat, dia resisten, enggak bisa diobati, dan menyebabkan kematian,” kata Dante.
Selain memangkas durasi pengobatan, Kemenkes juga memfokuskan intervensi penularan TBC pada orang-orang di sekitar pasien. Salah satunya melangsungkan skema Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat yang tinggal serumah.
“Jadi satu rumah, itu harus mendapatkan terapi pencegahan selama tiga bulan supaya tidak terkena kasus tuberkulosis,” ujar Dante.

Ilustrasi pengobatan TBC. Foto: Antara.
Melalui konsistensi berbagai intervensi medis tersebut, Kemenkes mencatat tren penurunan beban penderita TBC dalam satu tahun terakhir. Penurunan angka estimasi kasus tersebut juga telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Dan kelihatan setelah kita melakukan TPT dalam waktu satu tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO, dari tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000,” kata Dante.
(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)