Kemenkes Sebut Gejala Depresi dan Kecemasan Remaja 4 Kali Lipat Lansia

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi (kanan) dalam temu media di Jakarta, Rabu (9/9/2026). ANTARA/Mecca Yumna

Kemenkes Sebut Gejala Depresi dan Kecemasan Remaja 4 Kali Lipat Lansia

Achmad Zulfikar Fazli • 19 October 2026 11:39

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut gejala depresi dan kecemasan kepada anak sekolah dan remaja lebih dari empat kali lipat daripada kelompok dewasa dan lansia. Hal ini terpotret dari hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap 71 juta orang hingga Oktober 2026.

"Ada lebih dari 380 ribu anak dengan indikasi depresi dan hampir 380 ribu dengan indikasi kecemasan," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi dilansir dari Antara, Senin, 19 Oktober 2026.   

Dia menjelaskan Data WHO pada 2022 menegaskan gangguan jiwa adalah penyebab utama disabilitas di seluruh dunia, dengan lebih dari 700 juta orang terdampak depresi dan kecemasan. Kurang dari separuh penderita mendapatkan penanganan. 

"Lebih memprihatinkan lagi, separuh gangguan jiwa muncul sebelum anak berusia 14 tahun, sering kali tersembunyi di balik perubahan perilaku, keluhan fisik, hingga penurunan prestasi sekolah," ujar Imran.    

Imran menyebut teknologi berkembang begitu cepat, dan kini smartphone serta media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Interaksi terasa lebih mudah, informasi seolah tersedia tanpa batas.

Imran mengatakan di balik kenyamanan itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Kesehatan jiwa generasi muda semakin terancam.  

"Survei global Ipsos di 31 negara menempatkannya sebagai masalah kesehatan yang paling dikhawatirkan masyarakat, melampaui kanker dan stres," kata Imran.  

Cek Kesehatan Gratis. Foto: dok Metrotvnews.com

Dia mengatakan Indonesia menghadapi tantangan besar di ruang digital. Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, mencatat penetrasi internet mencapai lebih dari 80 persen populasi, dengan dominasi generasi muda. Hampir seluruh pelajar SMA dan mahasiswa terkoneksi dengan dunia maya. 

"Namun, ruang digital yang luas ini menyimpan sisi gelap. UNICEF mencatat bahwa empat dari sepuluh anak pernah mengalami pengalaman online yang menakutkan, sementara hampir setengahnya pernah menjadi korban perundungan siber," kata Imran.
 


Penelitian RSCM-FKUI menemukan sepertiga anak di Jakarta terindikasi kecanduan internet. Kasus kekerasan seksual digital dan paparan judi online pada anak-anak semakin menambah daftar ancaman.  

Menurut dia, dampaknya terasa nyata, mulai dari rasa bersalah, kecemasan berkepanjangan, depresi, isolasi sosial, hingga keretakan hubungan keluarga.

Menghadapi situasi ini, pihaknya mengusung kerangka penanganan berbasis komunitas. Upaya promotif dilakukan dengan edukasi dan pengasuhan positif, preventif melalui skrining mental rutin, intervensi cepat lewat saluran siaga, seperti Healing119.id yang sudah diakses lebih dari 280 ribu orang sejak Juli 2025, serta kuratif dan rehabilitatif melalui layanan medis dan psikologis di Puskesmas hingga rumah sakit.

"Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor melalui SKB 9 Kementerian/Lembaga tentang Kesehatan Jiwa Anak tahun 2026, serta aturan perlindungan anak di ruang digital melalui PP Nomor 17 Tahun 2025," ujar Imran.

Pihaknya juga mengajak orang tua menjadi teladan dalam penggunaan gawai, membuka komunikasi tanpa menghakimi, menyusun aturan bersama tentang waktu layar, menjaga keseimbangan aktivitas anak, peka terhadap sinyal bahaya, dan membantu anak menemukan minat positif di dunia nyata.

Kemenkes juga melatih masyarakat dengan keterampilan pertolongan pertama pada luka psikologis, melalui prinsip melihat, mendengar, dan menghubungkan anak dengan layanan profesional.

Imran mengatakan mengurangi paparan digital yang memicu kecemasan, berani bercerita, dan mencari bantuan profesional adalah langkah penting untuk merawat harapan.

“Remaja perlu didengar tanpa dihakimi, pengasuh perlu dukungan tanpa disalahkan. Dari ruang keluarga hingga ruang publik, kesehatan jiwa generasi muda adalah fondasi masa depan bangsa,” ujar Imran.

(Achmad Zulfikar Fazli)