Ilustrasi. Foto: Freepik.
Berapa Biaya Hidup di Singapura? Cek Rinciannya
Ade Hapsari Lestarini • 30 March 2026 12:25
Jakarta: Biaya hidup di Singapura terus meningkat pada 2026 akibat inflasi, tingginya permintaan hunian, serta dinamika ekonomi global. Indeks biaya hidup kota ini tercatat 87,7, mendekati New York City, menjadikannya salah satu kota termahal di dunia.
Tekanan biaya hidup dipicu pemulihan pascapandemi, gangguan rantai pasok global, dan tingginya ketergantungan terhadap impor. Inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,5-3 persen. Harga perumahan naik sekitar empat persen, sedangkan harga makanan meningkat sekitar tiga persen.
Kondisi ini membuat sekitar 60 persen pekerja hidup dari gaji ke gaji, lebih tinggi dibanding rata-rata Asia-Pasifik sebesar 48 persen. Selain kebutuhan dasar, biaya pendidikan juga menjadi beban signifikan bagi masyarakat, kerap menelan pengeluaran jutaan hingga miliaran rupiah per tahun bagi keluarga.
Data dari Singapore Economic Development Board dan Numbeo mencatat biaya pendidikan di Singapura bervariasi antara sekolah publik, internasional, dan perguruan tinggi. Biaya sekolah publik di Singapura berkisar 6.600 dolar Singapura hingga 18 ribu dolar Singapura per tahun sekitar Rp87,5 juta hingga Rp238,5 juta, tergantung jenjang dan fasilitas.
Sementara sekolah internasional dapat menembus 38.779 dolar Singapura per tahun atau sekitar Rp513,9 juta, terutama untuk kurikulum internasional dan fasilitas premium. Perguruan tinggi pun tidak kalah mahal, dengan biaya pendidikan tinggi dapat mencapai 50 ribu dolar Singapura per tahun atau sekitar Rp662,5 juta di beberapa institusi. Hal ini membuat pendidikan menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi keluarga, terutama bagi ekspatriat.

Ilustrasi. Foto: Freepik.
Baca Juga :
Ekonomi Singapura Tumbuh 5,0% di 2025
Dukungan pendapatan dan gaji
Meski begitu, rata-rata gaji bulanan di Singapura pada 2026 tercatat 5.532 dolar Singapura atau sekitar Rp73,3 juta, dengan profesional menerima 7.308 dolar Singapura atau sekitar Rp96,8 juta dan pekerja non-profesional sekitar 3.000 dolar Singapura atau sekitar Rp39,8 juta.
Ekspatriat di sektor teknologi dan keuangan bahkan memperoleh 7.000 dolar Singapura hingga 12 ribu dolar Singapura per bulan atau sekitar Rp92,8 hingga Rp159 juta. Sementara tarif pajak yang rendah, 0-22 persen, turut meningkatkan pendapatan bersih, membantu menyeimbangkan tingginya biaya pendidikan.
Meskipun biaya pendidikan tinggi, tekanan pengeluaran lain juga signifikan. Biaya sewa apartemen, utilitas, makanan, dan transportasi tetap menambah total pengeluaran bulanan keluarga. Sewa apartemen tiga kamar di pusat kota bisa mencapai 7.234 dolar Singapura atau sekitar Rp95,4 juta per bulan, utilitas antara 202-300 dolar Singapura atau sekitar Rp2,68 juta-Rp3,98 juta, dan kebutuhan pokok 400-600 dolar Singapura atau sekitar Rp5,3 juta-Rp8 juta.
Biaya pendidikan menambah beban finansial keluarga di Singapura, baik warga lokal maupun ekspatriat. Meskipun gaji rata-rata cukup tinggi, keluarga yang menempatkan anak di sekolah internasional atau perguruan tinggi ternama tetap harus menyiapkan dana besar, menjadikan pendidikan sebagai faktor utama dalam perencanaan keuangan keluarga. (Rosa Salma F)