Ekonom Nilai Strategi Fiskal Pemerintah Masih di Jalur Tepat di Tengah Ketidakpastian Global

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fahkrul Fulvian menilai strategi fiskal pemerintah masih berada di jalur yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi global. (Foto: Dok. Metro TV)

Ekonom Nilai Strategi Fiskal Pemerintah Masih di Jalur Tepat di Tengah Ketidakpastian Global

Patrick Pinaria • 23 June 2026 20:47

Jakarta: Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fahkrul Fulvian, menilai strategi fiskal pemerintah masih berada di jalur yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, kinerja penerimaan negara yang meningkat serta pengelolaan belanja yang lebih baik menjadi indikator bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga.

Fahkrul mengatakan perbaikan di pasar keuangan yang terlihat dari penguatan rupiah dan pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak terlepas dari sinergi kebijakan yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia sejak awal Juni 2026.

"Pasar mulai melihat adanya trajektori ekonomi Indonesia yang bergerak ke arah lebih baik setelah adanya komunikasi bersama antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan mengenai bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas," ujar Fahkrul dalam program Primetime News Metro TV, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurut dia, langkah tersebut mengubah ekspektasi pasar secara signifikan. Namun, ia menilai pasar saat ini telah mengapresiasi kebijakan yang bersifat taktis sehingga dibutuhkan langkah yang lebih strategis dari otoritas fiskal maupun moneter untuk menjaga momentum positif.

Fahkrul menambahkan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari kondisi APBN, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi yang masih terkendali meski tekanan global terus berlangsung.

"Tantangan berikutnya adalah bagaimana angka-angka makro tersebut dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat mikro, terutama terkait daya beli," katanya.
 

Panda Bond dinilai perkuat ketahanan pembiayaan

Di sisi pembiayaan, Fahkrul menilai penerbitan panda bond di Tiongkok sebagai salah satu strategi pembiayaan terbesar dan terbaik yang dilakukan Kementerian Keuangan tahun ini.

Menurut dia, langkah tersebut relevan dengan perubahan lanskap ekonomi global pascaperang dagang antara China dan Amerika Serikat yang mendorong percepatan internasionalisasi renminbi.
 

Ia menjelaskan pembiayaan berbasis renminbi menawarkan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen pembiayaan lain. Selain itu, hubungan perdagangan Indonesia dan China yang semakin erat juga membuat instrumen tersebut menjadi pilihan yang rasional.

"Melalui kerja sama bilateral dan skema bilateral currency settlement yang dilanjutkan dengan penerbitan panda bond, ruang pembiayaan Indonesia menjadi lebih terbuka," ujarnya.

Fahkrul menilai pembiayaan berbasis renminbi berpotensi menjadi salah satu sumber pembiayaan internasional penting bagi Indonesia di masa depan, terutama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
 

Penerimaan negara tumbuh positif

Dari sisi fiskal, Fahkrul menyebut kinerja penerimaan negara menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ia mencatat penerimaan negara tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan pada lima bulan pertama 2026.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nominal produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama yang berada di kisaran 9 persen.

"Kondisi ini mengindikasikan rasio pajak Indonesia pada 2026 berpotensi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.

Ia menjelaskan sejumlah faktor yang mendorong peningkatan penerimaan negara antara lain perbaikan kepatuhan wajib pajak, peningkatan penerimaan perpajakan, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ketika harga komoditas berada pada level tinggi.

Fahkrul juga menilai upaya pemerintah melakukan front loading belanja negara sejak awal tahun merupakan langkah yang positif. Namun, ia menilai kebijakan tersebut perlu dikomunikasikan secara lebih baik kepada masyarakat dan pelaku pasar.
 

Menurutnya, komunikasi yang konsisten mengenai arah fiskal menjadi penting untuk menghindari kesenjangan ekspektasi yang dapat memicu volatilitas pasar.
 

Program prioritas perlu terus dievaluasi

Terkait program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, Fahkrul menilai evaluasi berkala tetap diperlukan untuk memastikan target program dapat tercapai secara optimal.

Ia mencatat realisasi anggaran MBG hingga bulan kelima mencapai sekitar Rp88 triliun. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk menjelaskan kembali target dan dampak yang ingin dicapai melalui program-program prioritas tersebut.

"Yang diperhatikan masyarakat dan pelaku pasar bukan hanya besarnya serapan APBN, tetapi juga bagaimana target program dapat tercapai dan memberikan dampak nyata," ujarnya.
 

Ekonomi Indonesia dinilai masih resilien

Fahkrul menilai ekonomi Indonesia masih cukup resilien dibandingkan banyak negara lain, baik dari sisi makro maupun mikro. Meski demikian, ia mengingatkan agar optimisme tetap diimbangi dengan kewaspadaan menghadapi berbagai tantangan pada paruh kedua 2026.

Salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah fenomena El Nino yang berpotensi mendorong inflasi. Dalam kondisi tersebut, peran fiskal sebagai shock absorber dinilai semakin penting.

Menurut dia, ruang fiskal yang masih tersedia perlu dimanfaatkan secara optimal untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Jika Indonesia mampu melewati tantangan El Nino dan fiskal dapat berfungsi optimal sebagai shock absorber, dampaknya akan sangat positif terhadap perekonomian," kata Fahkrul.

Ia menambahkan, hingga Mei 2026 defisit APBN masih terjaga dan tidak melebihi 3 persen terhadap PDB. Kondisi tersebut menunjukkan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang dapat dimanfaatkan untuk meredam dampak berbagai tekanan ekonomi ke depan.

(Patrick Pinaria)