Gunung Slamet Makin Aktif, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Suhu di Kawah Gunung Slamet kembali meningkat dan mengumpulkan asap putih. MI

Gunung Slamet Makin Aktif, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Lukman Diah Sari • 23 April 2026 15:11

Purwokerto: Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Priatin Hadi Wijaya mengungkapkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Slamet, Jawa Tengah, yang perlu diwaspadai bersama oleh pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah sekitarnya.

“Gunung Slamet ini meliputi lima kabupaten (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes), sehingga hasil pemantauan kami perlu dikenalkan kepada para pemangku kepentingan agar ada kesiapsiagaan bersama,” kata Kepala PVMBG Priatin di sela kegiatan “Sosialisasi Mitigasi Bencana Geologi di Wilayah Gunung Api Slamet” yang digelar di Purwokerto, Kamis, 23 April 2026.

Ia mengatakan sosialisasi tersebut menjadi langkah penting untuk menyampaikan perkembangan terkini aktivitas gunung api kepada pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tokoh masyarakat agar respons yang dilakukan lebih terarah. Menurut dia, terdapat dua indikator utama yang menunjukkan peningkatan aktivitas Gunung Slamet yakni kenaikan suhu kawah dan aktivitas kegempaan vulkanik.


Kepala PVMBG Priatin Hadi Wijaya (kanan) dan Kepala Pelaksan Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan memberi keterangan pers di sela kegiatan "Sosialisasi Mitigasi Bencana Geologi di Wilayah Gunung Api Slamet” yang digelar di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Sumarwoto

Berdasarkan hasil citra termal tim PVMBG, kata dia, suhu kawah Gunung Slamet mengalami peningkatan signifikan. Sebelum Maret 2026 suhu berada di kisaran 280 derajat Celcius, kemudian meningkat menjadi 418 derajat Celcius, dan terbaru mencapai sekitar 460 derajat Celcius. Selain itu data kegempaan menunjukkan adanya peningkatan gempa berfrekuensi rendah (low frequency) yang mengindikasikan pergerakan magma dari bagian dalam menuju ke kedalaman yang lebih dangkal.

“Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika di dalam tubuh gunung api, sehingga perlu kewaspadaan bersama,” jelas dia.

Dalam melakukan pemantauan, PVMBG mengombinasikan metode visual dan instrumental, seperti kamera pemantau (CCTV), seismograf, tiltmeter, dan Electronic Distance Measurement (EDM) untuk memantau deformasi tubuh gunung. Jika peningkatan aktivitas terus berlanjut dan direkomendasikan oleh tim ahli, PVMBG dapat melakukan evaluasi terhadap status Gunung Slamet yang saat ini berada pada Level II atau Waspada.

“Jika memungkinkan terjadi kenaikan aktivitas dan direkomendasikan oleh tim ahli kami, maka evaluasi hingga peningkatan status harus segera dilakukan,” kata Priatin.

Sementara itu Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah (Jateng) Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan sosialisasi tersebut menjadi dasar penting bagi daerah dalam memperkuat mitigasi bencana.

“Ini menjadi bahan awal bagi kami untuk disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya di lima kabupaten. Kata kuncinya bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat sejak dini apabila terjadi erupsi,” katanya.

Ia mengatakan rencana kontingensi Gunung Slamet sebenarnya telah disusun sejak 2021, namun perlu diperbarui menyesuaikan perkembangan terbaru, seperti jumlah penduduk dan potensi jalur aliran material vulkanik. Menurut dia, pengalaman penanganan banjir bandang di Pemalang dan Purbalingga pada awal tahun 2026 dapat menjadi pembelajaran dalam manajemen kebencanaan, terutama dalam upaya penyelamatan masyarakat secara cepat.

Ia juga menekankan pentingnya peran desa tangguh bencana sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi erupsi.

“Hingga saat ini status Gunung Slamet masih berada pada Level II atau Waspada, sehingga kesiapsiagaan seluruh pihak perlu terus ditingkatkan guna mengantisipasi kemungkinan terburuk,” kata Bergas.

Sebelumnya PVMBG Badan Geologi pada 4 April 2026 memperluas batas aman di sekitar kawah puncak Gunung Slamet dari dua kilometer menjadi tiga kilometer seiring meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang sejak 19 Oktober 2023 berstatus Waspada (Level II).

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)