Sumsel Tetapkan Siaga Karhutla hingga November 2026

Ilustrasi-Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan kebakaran lahan di Desa Sebong Pereh, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepri, Selasa, 24 Maret 2026. ANTARA/HO-UPTD Damkar Tanjung Uban

Sumsel Tetapkan Siaga Karhutla hingga November 2026

Lukman Diah Sari • 24 April 2026 14:22

Palembang: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Selatan (Sumsel) menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai 22 April hingga 30 November 2026. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel M. Iqbal Alisyahbana mengatakan penetapan status siaga tersebut telah ditandatangani langsung oleh Gubernur Sumsel.

“Untuk Sumatera Selatan sendiri sudah menetapkan status siaga karhutla sejak 22 April hingga 30 November. Pertimbangannya berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang, lebih cepat datang, dan lebih kering,” kata Iqbal, di Palembang, Jumat, 24 April 2026, melansir Antara.

Ia menjelaskan penetapan status siaga ini bertujuan mempercepat akses bantuan dari pemerintah pusat serta memperkuat koordinasi penanggulangan di lapangan, menyusul mulai meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah. Selain di tingkat provinsi, Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir (OKI) juga telah menetapkan status siaga serupa.

“Tantangan ke depan terkait karhutla akan dihadapi dengan memperkuat koordinasi. Meski ada keterbatasan anggaran, penanganan tidak boleh menurun,” kata Iqbal.

Ilustrasi - Seorang petugas sedang berupaya memadamkan api dari lahan yang terbakar (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Sebagai langkah penanganan, Pemprov Sumsel telah mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dukungan helikopter patroli dan water bombing. Selain itu pemerintah daerah juga mengusulkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi lahan, khususnya lahan gambut, agar cadangan air tetap tersedia saat puncak musim kemarau.

“Kami juga mengajukan permohonan OMC untuk membasahi lahan gambut, sehingga saat puncak kemarau masih tersedia sumber air,” ujar Iqbal.

Pihaknya juga mengimbau perusahaan untuk mengaktifkan kembali sarana penanggulangan kebakaran, seperti regu pemadam, embung, dan kanal di wilayah konsesi masing-masing. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam aktivitas ekonomi yang menggunakan api, guna mencegah terjadinya karhutla.

“Musim kemarau diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga perlu diwaspadai bersama,” jelas dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)