Regu Penyelamat Berupaya Keluarkan 100 Pekerja PLTA di Nepal yang Terjebak

Banjir bandang di Nepal tenggelamkan rumah warga. Foto: ABC Australia

Regu Penyelamat Berupaya Keluarkan 100 Pekerja PLTA di Nepal yang Terjebak

Fajar Nugraha • 1 September 2026 20:15

Nuwakot: Jumlah korban tewas akibat banjir glasial dahsyat di Himalaya melampaui angka suram 1.000 jiwa pada Selasa 1 September 2026, sementara tim dari Tiongkok dan Nepal terus mencari korban selamat.

Operasi penyelamatan termasuk puluhan orang yang dikhawatirkan terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Hampir 4.500 orang hilang setelah gelombang raksasa berisi air es, bebatuan, dan puing-puing akibat runtuhnya gletser di ketinggian meluncur deras ke hilir pada Rabu, melenyapkan seluruh permukiman dan meninggalkan jejak kehancuran di sepanjang jalur yang dilaluinya di Nepal.

Tim penyelamat Nepal berpacu dengan waktu di tengah kondisi medan yang berbahaya -,melakukan penggalian, pengeboran, dan peledakan untuk menembus tumpukan material,- demi membebaskan sekitar 100 pekerja PLTA yang diyakini terjebak di sejumlah terowongan.

Sejauh ini, hanya jenazah yang berhasil dievakuasi dari terowongan-terowongan yang tertutup lumpur pekat.

"Kami fokus pada upaya pencarian dan penyelamatan di lokasi terowongan; pekerjaan kami terus berlanjut," ujar juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, kepada AFP.

"Para prajurit kami juga dikerahkan untuk mengevakuasi jenazah dan mencegah penyebaran penyakit,” imbuh Basnet.

Akibat kamar jenazah di Nepal yang sudah penuh sesak, pihak berwenang mulai memakamkan ratusan jenazah tak dikenal setelah pengambilan sampel DNA. Setidaknya 17 jenazah juga telah ditemukan di sungai-sungai yang berada jauh di hilir, tepatnya di wilayah India.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyebut bencana ini sebagai peristiwa yang "tak terbayangkan dan memilukan".

Temukan jenazah

Di ibu kota Kathmandu, warga mengantre untuk mencari kerabat mereka yang hilang, menempelkan foto-foto di dinding panjang di luar rumah sakit dengan harapan tipis bisa menemukan mereka dalam keadaan hidup.

Debu Sapkota, seorang pengemudi berusia 58 tahun, datang untuk menempelkan foto ibu mertua (83 tahun) dan cucu perempuannya yang hilang di kota Trishuli Bazaar setelah tersapu arus deras pekan lalu.

Sebuah peringatan bahaya sempat berbunyi, namun sang wanita lanjut usia itu "terlalu tua untuk berlari," tutur Sapkota.

"Cucunya berusaha membantunya melarikan diri, namun keduanya akhirnya tersapu arus." Sapkota mengatakan ia tidak lagi memiliki "harapan bahwa mereka selamat" setelah para saksi mata melihat mereka hanyut terbawa arus deras.

"Saya berada di sini dengan harapan dapat menemukan jenazah mereka," ujar Sapkota sembari memperlihatkan foto kedua perempuan yang hilang itu, yang tampak mengenakan pakaian tradisional.

Di distrik Chitwan, kerabat yang berduka mengkremasi sebagian korban tewas.

Para tentara terlihat sedang menurunkan jenazah korban dari helikopter di distrik Nuwakot dan Rasuwa, Nepal.

Kebutuhan akan bantuan sangatlah besar. Seluruh permukiman telah tersapu bersih, menyebabkan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa menggunakan tempat penampungan darurat di tengah guyuran hujan deras.

Jalan raya serta puluhan jembatan hancur, dan sejumlah pembangkit listrik pun rusak berat.

"Ada begitu banyak tantangan," kata petugas polisi E Hawadi di distrik Nuwakot yang terdampak parah.

(Fajar Nugraha)