BMKG Deteksi 1.689 Titik Panas di 6 Provinsi Papua

Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Sri Dewi sedang memantau titik api melalui layar monitor. ANTARA/HO-BMKG Wilayah V Jayapura

BMKG Deteksi 1.689 Titik Panas di 6 Provinsi Papua

Lukman Diah Sari • 26 August 2026 23:02

Jayapura: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mencatat sebanyak 1.689 titik panas terpantau di seluruh wilayah Tanah Papua. Data ini dihimpun terhitung sejak Selasa, 25 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT hingga Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT.

Adapun rincian sebaran titik panas tersebut berdasarkan tingkat kepercayaan adalah sebagai berikut:

  • Tingkat kepercayaan sedang: 1.485 titik (87,9%)

  • Tingkat kepercayaan tinggi: 162 titik (9,6%)

  • Tingkat kepercayaan rendah: 42 titik (2,5%)

Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Sri Dewi, memaparkan bahwa ribuan titik panas itu tersebar di enam provinsi, yakni Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya.

"Secara umum, sebaran hotspot paling banyak terpantau di Kabupaten Merauke sebanyak 391 titik, diikuti Kabupaten Mappi 275 titik, dan Kabupaten Fakfak 159 titik," jelas Sri Dewi di Jayapura, Rabu, 26 Agustus 2026, melansir Antara.


Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Sri Dewi sedang memantau titik api melalui layar monitor. ANTARA/HO-BMKG Wilayah V Jayapura

Selain itu, wilayah Kabupaten Yahukimo juga perlu mendapat perhatian ekstra lantaran banyak memunculkan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kawasan tersebut berisiko besar mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sri Dewi menegaskan, kombinasi antara fenomena El Nino, periode puncak musim kemarau, dan lonjakan titik api harus menjadi perhatian serius semua pihak. Rentetan kondisi alam tersebut memicu sejumlah risiko, di antaranya:
  • Terjadinya kekeringan dan minimnya curah hujan.

  • Risiko meluasnya karhutla dan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.

  • Munculnya gangguan kesehatan masyarakat, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

  • Terganggunya transportasi darat dan udara akibat terbatasnya jarak pandang.

  • Ancaman kerusakan lahan pertanian dan perkebunan warga.

Merespons potensi ancaman tersebut, BMKG Wilayah V Jayapura merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi terpadu kepada pemerintah daerah (pemda) dan pemangku kepentingan:
  • Perkuat Kesiapsiagaan: Memperbarui rencana kontingensi, memastikan kesiapan personel dan armada pemadaman, serta memperkuat sistem peringatan dini karhutla.

  • Manajemen Sumber Air: Mengisi waduk, embung, atau bendungan sebagai cadangan air untuk mendukung upaya pemadaman sekaligus mengantisipasi krisis air bersih bagi warga terdampak kekeringan.

  • Pengawasan Lahan: Meningkatkan patroli terpadu dan menindak tegas masyarakat yang masih melakukan pembakaran untuk membuka atau membersihkan lahan pertanian.

"Pantau terus informasi cuaca, perkembangan El Nino, dan informasi titik api dari BMKG. Kami meminta warga untuk segera melaporkan ke instansi berwenang apabila menemukan titik api atau asap agar penanganan dapat dilakukan cepat sebelum meluas," pungkas Sri Dewi.

(Lukman Diah Sari)