BGN Tangguhkan Sementara 463 SPPG untuk Penataan MBG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberikan keterangan kepada wartawan seusai rapat perbaikan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: ANTARA/Aria Ananda.

BGN Tangguhkan Sementara 463 SPPG untuk Penataan MBG

Fachri Audhia Hafiez • 26 August 2026 16:50

Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) menangguhkan sementara 463 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini untuk melengkapi dan memverifikasi data dalam rangka penataan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“(Sebanyak) 463 ini kami suspend 10 hari untuk kemudian mereka melengkapi data-data yang kita inginkan (yaitu) profil dapur, foto dapur, kemudian profil sekolahnya,” kata Kepala BGN Sudaryono usai rapat koordinasi terbatas terkait perbaikan tata kelola MBG di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 26 Agustus 2026.
 


Ia menegaskan bahwa kebijakan penangguhan ini merupakan langkah penataan berbasis data, bukan bentuk sanksi permanen. Langkah ini diambil agar penyaluran MBG di lapangan tepat sasaran dan akuntabel.

“Maksud saya, jangan sampai nanti di antara yang kami suspend sementara ini ternyata selama ini misalnya dapurnya belum beroperasi. Jadi kami betul-betul pastikan bahwa dapur ini beroperasi dan melayani sekolah-sekolah itu,” kata Sudaryono.

Sudaryono menjelaskan bahwa dari 27.485 SPPG yang tercatat beroperasi, sebanyak 27.022 di antaranya telah memperoleh surat ketetapan sementara. Sementara itu, 463 SPPG sisanya masih diharuskan melengkapi berkas administrasi dan profil teknis.

“Sekarang ini menurut catatan yang beroperasi 27.485. Itu kemudian kami sisir, kami profiling dapurnya dan juga kami cek penerima manfaatnya,” kata Sudaryono.


Ilustrasi SPPG. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Proses verifikasi ini dilakukan guna memastikan seluruh unit layanan yang terdaftar benar-benar beraktivitas dan menyalurkan makanan bergizi sesuai target. BGN juga mencocokkan titik lokasi dapur dengan sasaran distribusi, baik di sekolah maupun pos pelayanan terpadu (posyandu).

“Pada saat dapur ini melaporkan mengirimkan MBG-nya ke sekolah tertentu, sekolahnya kita kirimi email, kita kirimi surat, konfirmasi benar enggak dapur ini melayani di sekolah Anda,” ungkap Sudaryono.

Pengecekan silang (cross-check) ini diterapkan secara menyeluruh mengingat skala operasi program yang telah menjangkau puluhan ribu dapur di berbagai daerah. “Jadi ini kita cross-check semua karena memang datanya banyak, 27.000 dapur ini kami cross-check semua,” ucap Sudaryono.

(Fachri Audhia Hafiez)