Karhutla Terkendali, BNPB Masih Temukan Titik Api di Papua Barat

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan sedang memaparkan kondisi karhutla di Papua Barat. (Dokumentasi/ BNPB)

Karhutla Terkendali, BNPB Masih Temukan Titik Api di Papua Barat

Silvana Febiari • 31 August 2026 16:25

Jakarta: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Barat secara umum telah terkendali. Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menemukan sejumlah titik asap yang perlu dipantau untuk memastikan kebakaran tidak kembali meluas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan berdasarkan kondisi per 30 Agustus 2026, masih terdapat 20 titik panas (hotspot) dan lima titik api di Papua Barat.

“Di Papua Barat juga terjadi karhutla. Per tanggal 30 Agustus 2026, secara umum sudah dapat terkendali, namun masih ditemukan titik-titik asap,” kata Berton, dalam keterangan pers, Senin, 31 Agustus 2026.


Meski demikian, kondisi secara umum dinilai sudah dapat dikendalikan. Jarak pandang di wilayah terdampak juga masih berada pada kisaran 7–10 kilometer.

Untuk menangani sisa titik api dan asap, BNPB mengutamakan operasi udara melalui metode water bombing. Dukungan juga datang dari pihak lain, termasuk dua helikopter dari BP Berau serta kontribusi pihak swasta dalam penanganan karhutla.

BNPB sendiri telah mengerahkan satu helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara. Helikopter tersebut telah menyebarkan sekitar 662 ribu liter air ke lokasi terdampak.

“Kita sambut baik bantuan dua heli dari BP Berau. Pihak swasta juga andil dalam mendukung penanganan karhutla,” ujar Berton.

Dengan kondisi karhutla yang secara umum telah terkendali, operasi darat untuk sementara dihentikan. Penanganan saat ini lebih difokuskan pada operasi udara.

Namun, pelaksanaan water bombing menghadapi tantangan berupa kondisi vegetasi di Papua Barat yang tinggi dan rapat. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian air yang dijatuhkan dari udara tertahan di bagian tajuk pohon sebelum mencapai permukaan tanah.

“Vegetasi tinggi dan rapat menyebabkan air water bombing banyak tertahan di tajuk pohon,” ungkapnya.

Selain kondisi vegetasi, operasi udara di Papua Barat juga menghadapi kendala teknis dan logistik. Hanya satu helikopter yang dapat beroperasi secara bersamaan karena menara pengawas di Bandara Babo tidak mencakup seluruh area operasi.

Keterbatasan stok bahan bakar avtur juga menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan operasi udara. BNPB menyatakan akan melakukan berbagai pendekatan agar ketersediaan avtur dapat dipenuhi sehingga operasi penanganan karhutla dapat berjalan optimal.

“Kami akan melakukan berbagai pendekatan sehingga stok avtur menjadi tersedia nantinya,” ujar Berton.


Petugas dari Dinas Kehutanan Kalteng berupaya memadamkan kebakaran di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. ANTARA Kalteng/Auliya Rahman.


BNPB juga akan kembali melakukan operasi pemantauan dan pemetaan pada Selasa, 1 September 2026. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya titik api maupun titik panas baru di wilayah terdampak.

Pemetaan dan pemantauan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan berikutnya. Jika masih ditemukan titik api, satgas akan kembali diaktifkan untuk melakukan penanganan di lapangan.

“Satgas perlu diaktifkan kembali,” katanya.

BNPB mengingatkan adanya potensi kemudahan terbakar yang cukup tinggi di sejumlah wilayah Papua Barat. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga 5 September 2026.

Wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak. “Potensi kemudahan terbakar sangat tinggi dan ini akan terjadi hari ini sampai 5 September nanti, terutama di Teluk Bintuni dan Fakfak,” ucap Berton.

(Silvana Febiari)