Benarkah Perairan Masalembo Masuk 'Segitiga Bermuda' Indonesia? Ini Penjelasan Ahli

Foto: X Daryono Perwira Sakti @daryono_eq_talk

Benarkah Perairan Masalembo Masuk 'Segitiga Bermuda' Indonesia? Ini Penjelasan Ahli

Riza Aslam Khaeron • 17 September 2026 11:45

Jakarta: Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di sekitar Perairan Masalembo pada 13 September 2026 kembali menyoroti kondisi perairan di kawasan tersebut. Insiden ini juga memunculkan kembali pembahasan soal julukan "Segitiga Bermuda Indonesia" yang kerap disematkan kepada Perairan Masalembo.

Julukan tersebut muncul karena Perairan Masalembo sering dikaitkan dengan berbagai kecelakaan kapal dan cerita misterius. Setelah insiden Virgo Transport 8, anggapan bahwa kawasan ini memiliki kondisi laut yang tidak biasa kembali menjadi perbincangan.

Lantas, benarkah Perairan Masalembo memang memiliki fenomena misterius seperti Segitiga Bermuda? Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono Perwira Sakti, menjelaskan kondisi Masalembo dari perspektif sains. Menurutnya, kawasan tersebut memang memiliki kondisi laut dan atmosfer yang dinamis.
 

Masalembo Berada di Kawasan Laut yang Dinamis


KM Virgo Transport 8. Dok Metro TV.

Perairan Masalembo berada dalam sistem perairan yang berhubungan dengan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar juga menjadi salah satu jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari kawasan Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

Pertemuan berbagai kondisi laut tersebut membuat pergerakan air di sekitar Masalembo menjadi cukup kompleks. Perbedaan suhu, kadar garam, kedalaman, dan arah arus dapat memengaruhi kondisi air di berbagai lapisan laut.

Kondisi tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius. Daryono menjelaskan, kompleksitas laut di kawasan ini tidak secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam.

"Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam," kata Daryono dalam keterangan tertulis.
 

Gelombang dari Berbagai Arah Dapat Bertemu

Selain arus, angin juga dapat memengaruhi kondisi laut di Masalembo. Kawasan ini dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia yang membuat arah dan kecepatan angin dapat berubah.

Dalam kondisi tertentu, gelombang dari beberapa arah dapat bertemu dan membentuk cross-sea. Kondisi ini dapat membuat kapal bergerak lebih kuat ke kiri dan kanan atau naik turun dari bagian depan hingga belakang.
Gerakan tersebut dikenal sebagai rolling dan pitching. Jika terjadi dalam kondisi gelombang besar, beban yang diterima kapal juga dapat bertambah.

Daryono menjelaskan bahwa cross-sea dapat menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam pelayaran di kawasan tersebut.

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal," kata Daryono.

Cross-sea sendiri tidak hanya terjadi karena pertemuan angin dan arus. Menurut Daryono, kondisi tersebut dapat terbentuk dari gelombang yang dihasilkan angin setempat dan gelombang yang datang dari wilayah lain.
 

Awan Cumulonimbus Bisa Mengubah Kondisi Laut

Kondisi atmosfer juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Laut yang hangat dapat menyediakan uap air dan energi yang mendukung pertumbuhan awan. Jika kondisi atmosfer mendukung, awan Cumulonimbus dapat berkembang dan menghasilkan hujan lebat, petir, downdraft, hingga gust front atau embusan angin yang berubah secara cepat.

Perubahan angin secara tiba-tiba dapat membuat kondisi laut berubah dalam waktu singkat. Bagi kapal, kondisi tersebut dapat meningkatkan gerakan dan beban selama pelayaran. Daryono menekankan bahwa perubahan cuaca seperti ini perlu diperhitungkan karena angin, gelombang, dan arus dapat saling memengaruhi.

"Embusan angin yang berubah cepat dapat menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat," kata Daryono.
 

Bentuk Dasar Laut Ikut Memengaruhi Gelombang

Bentuk dan kedalaman dasar laut atau batimetri juga dapat memengaruhi pergerakan gelombang. Ketika gelombang masuk ke wilayah yang lebih dangkal, kecepatan dan bentuk gelombang dapat berubah.

Namun, perubahan kedalaman tidak selalu membuat gelombang menjadi jauh lebih tinggi. Pengaruhnya bergantung pada beberapa hal, seperti arah dan periode gelombang, kedalaman laut, bentuk dasar laut, pasang surut, serta kondisi arus. Dengan demikian, kondisi gelombang di Masalembo tidak bisa dijelaskan hanya berdasarkan satu faktor.
 

Kondisi Kapal Juga Berpengaruh

Selain faktor alam, kondisi kapal dan cara pelayaran juga berpengaruh terhadap keselamatan. Stabilitas kapal, kondisi teknis, distribusi dan pengamanan muatan, kecepatan, kemampuan manuver, kompetensi awak, serta keputusan navigasi perlu diperhatikan.

Pada kapal Ro-Ro (roll-on/roll-off), pengamanan kendaraan dan muatan menjadi hal penting. Pergeseran muatan ketika kapal menghadapi gelombang besar dapat memengaruhi stabilitas kapal. Daryono menjelaskan bahwa berbagai faktor tersebut dapat saling berkaitan dalam menentukan risiko pelayaran di Masalembo.

"Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi," jelas Daryono.
 

Penyebab Virgo Transport 8 Perlu Dibuktikan

Berbagai kondisi laut dan atmosfer yang dijelaskan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan KM Virgo Transport 8. Daryono menegaskan, setiap faktor yang diduga berkontribusi terhadap kecelakaan harus dibuktikan melalui data dan investigasi.

"Fenomena oseanografi dan meteorologi yang dibahas dalam artikel ini tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8," tegas Daryono.

Investigasi kecelakaan perlu melihat berbagai aspek, mulai dari kondisi cuaca dan laut, kondisi kapal, muatan, stabilitas, mesin, navigasi, keputusan operasional, hingga faktor manusia. Karena itu, kecelakaan di Masalembo tidak bisa langsung disimpulkan hanya disebabkan oleh kondisi alam.
   

Jadi, Benarkah Masalembo "Segitiga Bermuda" Indonesia?

Julukan "Segitiga Bermuda Indonesia" memang kerap digunakan untuk menyebut Perairan Masalembo. Namun, dari penjelasan Daryono, kondisi di kawasan tersebut dapat dipahami melalui berbagai faktor laut, atmosfer, kapal, dan aktivitas pelayaran.

Masalembo merupakan kawasan laut yang dinamis. Kondisi alam di dalamnya dapat berubah dan saling berinteraksi dengan kondisi kapal serta keputusan dalam pelayaran. Karena itu, keselamatan di kawasan tersebut membutuhkan informasi cuaca dan laut yang aktual, perencanaan pelayaran yang baik, pemantauan kondisi kapal dan muatan, serta kesiapan awak.

Daryono menekankan pentingnya memahami Perairan Masalembo berdasarkan kondisi ilmiah dan data, bukan semata-mata melalui cerita misterius yang berkembang.

"Masalembo bukan misteri. Masalembo adalah pengingat bahwa laut harus dipahami dengan sains, dipantau dengan data, dan dilayari dengan perencanaan serta kewaspadaan tinggi," tegas Daryono.

(Siti Nahdia Usman)

(Riza Aslam Khaeron)