Serangan Rusia Lumpuhkan Kyiv Ukraina, Jutaan Warga Tanpa Listrik dan Pemanas

Serangan Rusia melumpuhkan pemanas, listrik, dan air di Kyiv saat suhu mencapai minus 14 derajat Celsius. (Anadolu Agency)

Serangan Rusia Lumpuhkan Kyiv Ukraina, Jutaan Warga Tanpa Listrik dan Pemanas

Muhammad Reyhansyah • 21 January 2026 14:27

Kyiv: Serangan Rusia pada Selasa kemarin telah melumpuhkan pasokan pemanas, listrik, dan air di ribuan bangunan permukiman serta gedung parlemen Ukraina di ibu kota Kyiv, ketika suhu udara turun hingga minus 14 derajat Celsius. Serangan tersebut terjadi saat kota masih berupaya memulihkan layanan vital yang rusak akibat gempuran sebelumnya.

Rentetan ratusan drone dan rudal yang menyasar infrastruktur energi di berbagai wilayah Ukraina menewaskan sedikitnya satu pria berusia 50 tahun di dekat Kyiv. Wartawan AFP melaporkan sirene serangan udara dan ledakan terdengar di ibu kota ketika sistem pertahanan udara Ukraina merespons serangan tersebut.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan lebih dari setengah juta warga telah meninggalkan ibu kota sepanjang Januari, menyusul serangan terkuat Rusia terhadap infrastruktur energi kota sejak perang dimulai. Dari total populasi sekitar 3,6 juta jiwa, sekitar 600.000 orang kini telah mengungsi.

Berlindung di stasiun metro pusat Kyiv, Marina Sergienko (51), seorang akuntan, menilai serangan berulang Rusia memiliki tujuan yang jelas.

“Untuk melemahkan rakyat, mendorong semuanya ke titik kritis sehingga tak ada kekuatan yang tersisa, untuk mematahkan perlawanan kami,” ujarnya kepada AFP dan dikutip Hurriyet Daily News, Rabu, 21 Januari 2026.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga mengecam Presiden Rusia Vladimir Putin, menuding Moskow terus melancarkan serangan terhadap warga sipil. Ia menyebut infrastruktur energi di sedikitnya tujuh wilayah Ukraina menjadi sasaran dan mendesak negara-negara sekutu memperkuat sistem pertahanan udara Ukraina.

Gangguan Layanan Publik

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengisyaratkan kemungkinan membatalkan kehadirannya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, untuk menangani dampak serangan tersebut. Namun, ia tetap membuka peluang hadir jika kesepakatan dukungan ekonomi dan keamanan pascaperang dengan Amerika Serikat siap ditandatangani.

Angkatan Udara Ukraina menyatakan Rusia meluncurkan sekitar 339 drone tempur jarak jauh dan 34 rudal dalam serangan semalam itu. Zelensky mengakui kinerja pertahanan udara terhadap drone Shahed, drone buatan Iran yang digunakan Rusia, masih belum optimal, seraya menyebut Ukraina baru menerima tambahan amunisi sehari sebelumnya.

Serangan terbaru ini terjadi sekitar 10 hari setelah gempuran besar Rusia terhadap jaringan energi Kyiv pada 9 Januari, yang membuat setengah kota kehilangan pemanas dan banyak wilayah tanpa listrik selama beberapa hari di tengah suhu beku. Sebagian besar bangunan yang terdampak pada Selasa juga merupakan lokasi yang terkena serangan sebelumnya.

Sekolah-sekolah di Kyiv ditutup hingga Februari dan lampu jalan diredupkan untuk menghemat energi. Zelensky mengatakan lebih dari satu juta warga Kyiv akan kehilangan listrik hingga Selasa malam, sementara lebih dari 4.000 blok hunian, atau sekitar separuh bangunan di ibu kota, masih tanpa pemanas. Gedung parlemen Ukraina turut terdampak pemadaman, kata Ketua Parlemen Ruslan Stefanchuk.

Serangan Meluas ke Wilayah Lain

Serangan terhadap fasilitas energi juga dilaporkan terjadi di Odesa, Poltava, dan Rivne. Pada malam hari, drone Rusia kembali menyerang wilayah Zaporizhzhia dan menewaskan tiga orang, menurut kementerian dalam negeri Ukraina.

Jaringan listrik yang memasok pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl yang sudah tidak beroperasi turut terdampak, sempat memutus pasokan listrik untuk pemeliharaan fasilitas tersebut sebelum akhirnya dipulihkan, kata Direktur PLTN Chernobyl Sergiy Tarakanov.

Sejak awal invasi, Rusia secara konsisten menargetkan sektor energi Ukraina, yang menurut Kyiv bertujuan melemahkan moral dan daya tahan masyarakat sipil. Kremlin menyatakan hanya menyerang fasilitas militer dan menyalahkan berlanjutnya perang pada penolakan Ukraina terhadap tuntutan perdamaian Rusia.

Mahkamah Pidana Internasional sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dua pejabat tinggi militer Rusia atas serangan terhadap jaringan energi Ukraina, yang dinilai sebagai kejahatan perang karena berdampak langsung pada warga sipil.

Karena pertimbangan keamanan masa perang, otoritas Kyiv tidak merinci fasilitas energi mana saja yang rusak atau hancur akibat serangan terbaru tersebut.

Baca juga:  Ukraina Umumkan Status Darurat Energi saat Diterpa Musim Dingin Ekstrem

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)