Ilustrasi hantavirus. Foto: Antara.
4 ABK di Jakbar yang Sempat Jadi Suspek Hantavirus Dipastikan Negatif
Gabriella Thesa Widiari • 26 May 2026 17:32
Jakarta: Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat melaporkan empat anak buah kapal (ABK) yang berlayar ke Somalia sempat menjadi suspek hantavirus di wilayhanya. Namun, keempatnya kini dinyatakan negatif.
"Hasil pemeriksaannya adalah negatif untuk penyakit hantavirus, yellow fever dan malaria," ujar Kepala Sudinkes Jakbar Sahruna, dilansir dari Antara, Selasa, 26 Mei 2026.
Dia mengatakan, pada 13 Mei 2026, RSUD Cengkareng melaporkan kasus suspek hantavirus sebanyak empat orang. Mereka merupakan ABK yang berlayar ke Somalia.
Pihaknya lantas melakukan pemeriksaan hantavirus, malaria dan yellow fever (demam kuning). Tes kesehatan menunjukan hasil negatif, keempat ABK tersebut kemudian diizinkan pulang karena sudah tidak bergejala.
Sudinkes Jakbar terus mengupayakan langkah-langkah antisipasi dan pengawasan sesuai pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus Hanta Kementerian Kesehatan Tahun 2023.
Diantaranya, penguatan kewaspadaan dini melalui surveilans berbasis indikator dan kejadian (IBS & EBS); peningkatan kewaspadaan penyakit virus Hanta melalui penerbitan Surat Pemberitahuan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta nomor 1501/KS.02.01 tanggal 12 Mei 2026 tentang Kewaspadaan Virus Hanta kepada Suku Dinas Kesehatan, rumah sakit dan Puskesmas di DKI Jakarta.

Ilustrasi hewan tikus. Foto: Shutterstock
?Deteksi dini dilakukan dengan pendekatan "syndromic surveillance", terutama pada kasus demam akut, gangguan pernapasan, trombositopenia, gangguan ginjal, serta riwayat paparan rodensia/tikus; penyiapan RS Sentinel RSUD Tarakan; penemuan kasus dilakukan melalui pendekatan rumah sakit, Puskesmas, laboratorium, dan surveilans komunitas; peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam identifikasi kasus suspek dan tata laksana awal.
Selain itu, penyiapan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk investigasi epidemiologi dan respon cepat kasus; kesiapan tata kelola spesimen, pemeriksaan laboratorium, dan rujukan RT-PCR/serologi; penguatan tata laksana klinis dan pencegahan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas kesehatan; pelaksanaan penyelidikan epidemiologi dan pemetaan faktor risiko lingkungan serta populasi rodensia.
Kemudian, pengendalian reservoir tikus dan perbaikan sanitasi lingkungan secara terpadu; serta penguatan komunikasi risiko, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektor secara berjenjang.
Dia pun mengimbau masyarakat agar tetap melaksanakan protokol kesehatan, mulai dari mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk dan bersin.