Ilustrasi. Foto: Dok. Media Indonesia.
Akses Pembiayaan Solusi Konkret Cetak Pengusaha Baru
M Sholahadhin Azhar • 25 May 2026 20:17
Jakarta: Akses pembiayaan yang memudahkan, dinilai jadi solusi konkret untuk mencetak pengusaha baru. Usul ini mengemuka dalam debat calon ketua umum BPP Hipmi.
"Kami akan mengusulkan kepada pemerintah untuk dibentuk bank baru yang berfokus kepada skema pembiayaan produktif bisnis baru berbasis feasibility study dengan kurasi yang ketat oleh pemerintah dan asosiasi pengusaha," kata calon ketua umum BPP Hipmi Anthony Leong, dalam pernyataan yang dikutip Senin, 25 Mei 2026.
Menurut Anthony, Hipmi perlu mendorong lahirnya lembaga keuangan baru. Khususnya, secara khusus fokus membantu pembiayaan produktif bagi pengusaha muda Indonesia.
Menurutnya, konsep Youth Development Bank bukan sekadar menghadirkan pinjaman murah. Tetapi membangun sistem pembiayaan yang benar-benar berpihak kepada lahirnya generasi pengusaha baru di Indonesia.
Anthony menjelaskan, pembiayaan dalam skema tersebut nantinya diberikan berdasarkan kelayakan bisnis dan potensi usaha. Sehingga, bukan hanya kekuatan agunan atau aset yang dimiliki calon pengusaha.
Ia menilai banyak anak muda Indonesia memiliki ide bisnis yang inovatif dan potensial, namun gagal berkembang karena terhambat sistem pembiayaan konvensional yang dinilai belum ramah terhadap pengusaha pemula.

Calon ketua umum BPP Hipmi Anthony Leong. Foto: Dok. Istimewa.
“Yang kita perjuangkan bukan sekadar bunga yang murah, melainkan jaminan akses pembiayaan yang nyata bagi lahirnya pengusaha-pengusaha muda baru,” tegasnya.
Dalam konsep yang ditawarkan, Youth Development Bank akan menerapkan tingkat suku bunga kompetitif sekitar 2 hingga 3 persen di atas BI Rate agar tetap sehat secara bisnis namun tetap terjangkau bagi pengusaha muda.
Anthony menekankan bahwa proses kurasi akan menjadi bagian penting agar pembiayaan benar-benar diberikan kepada bisnis yang memiliki prospek dan dampak ekonomi nyata. Kurasi tersebut melibatkan pemerintah serta asosiasi pengusaha untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan usaha yang dibiayai.
Anthony juga menyoroti ketimpangan akses modal antara pengusaha di kota besar dan daerah. Menurutnya, banyak pengusaha muda di daerah memiliki potensi besar namun kesulitan berkembang karena minim dukungan pembiayaan.
Melalui gagasan Youth Development Bank, Hipmi diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah sekaligus mempercepat regenerasi pengusaha nasional.
Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda produktif untuk menghadapi tantangan ekonomi global, bonus demografi, hingga era digitalisasi ekonomi.
“Kalau akses pembiayaan hanya dinikmati kelompok tertentu, maka pengusaha baru akan sulit lahir. Padahal Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur muda untuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi nasional,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat perhatian peserta debat karena dinilai lebih konkret dan terukur dibanding sekadar narasi umum mengenai pemberdayaan anak muda. Sejumlah kader HIPMI menilai ide tersebut dapat menjadi terobosan besar apabila mampu diwujudkan melalui sinergi antara pemerintah, dunia perbankan, dan organisasi pengusaha.
Panelis debat dan juga Ketua Umum BPD HIPMI Bali 2000-2003, GDE Sumarjaya Linggih yang juga menyampaikan apresiasi gagasan Anthony terkait Youth Development Bank dan gagasan terkait long term economic growth.
"Saya tertarik dan mengapresiasi dengan gagasan saudara terkait program ini Youth Development Bank," ujarnya.
Debat calon Ketua Umum BPP HIPMI di Bali sendiri menjadi momentum penting bagi para kandidat untuk memaparkan arah masa depan organisasi serta strategi memperkuat peran pengusaha muda dalam pembangunan ekonomi Indonesia.