Satu Tahun Uji Coba, Pemkot Bandung Matangkan Model Bisnis Angkot Pintar

Ilustrasi angkot di Kota Bandung.

Satu Tahun Uji Coba, Pemkot Bandung Matangkan Model Bisnis Angkot Pintar

Roni Kurniawan • 30 June 2026 18:11

Bandung: Pemerintah Kota Bandung terus mematangkan model bisnis program angkot pintar setelah menjalani masa uji coba selama satu tahun. Hasil evaluasi menunjukkan layanan tersebut berjalan baik dari sisi operasional, namun biaya pengadaan armada listrik masih menjadi tantangan utama dalam pengembangannya.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan angkot pintar telah menunjukkan kinerja positif selama masa evaluasi. Meskipun demikian, harga armada listrik yang mencapai dua kali lipat dibandingkan angkot konvensional membuat perluasan program membutuhkan dukungan pembiayaan yang matang.

"Hasil evaluasi menunjukkan secara operasional angkot pintar sudah sangat baik. Tetapi tantangannya ada pada biaya pengadaan. Harga angkot listrik bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan angkot konvensional," kata Muhammad Farhan di Bandung, Selasa, 30 Juni 2026.

Farhan mengaku, Pemkot Bandung bersama Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dinas Perhubungan Kota Bandung, dan Kementerian Perhubungan tengah menyusun skema pembiayaan yang berkelanjutan. Model tersebut diharapkan mampu mempercepat pengadaan armada sekaligus menjaga keberlangsungan operasional angkot pintar.

 



Farhan menjelaskan, armada nantinya akan dioperasikan oleh koperasi angkutan kota yang selama ini melayani masyarakat, seperti Kobutri, Kopamas, dan Kobanter. Pemerintah akan berupaya memberikan dukungan agar beban investasi yang ditanggung para operator tidak terlalu besar.

Menurut Farhan, keberhasilan transformasi angkutan umum menuju kendaraan ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada kesiapan armada, tetapi juga pada model bisnis yang mampu menjamin keberlanjutan usaha para pengelola.

Selain pengadaan armada, Pemkot Bandung juga masih mengkaji rencana konvergensi atau konsolidasi kepemilikan angkutan kota. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem transportasi publik yang lebih efisien, meskipun prosesnya tidak mudah karena melibatkan banyak pemilik kendaraan.


Wali Kota Bandung M Farhan dan Kapolrestabes Bandung Kombes Dedi Supriyadi. Metrotvnews.com/ P Aditya Prakasa


"Konvergensi masih terus dihitung. Menyatukan beberapa pemilik angkot menjadi satu entitas usaha bukan perkara mudah. Karena itu kami sedang menyusun model bisnis yang tepat," beber Farhan.

Farhan menegaskan, skema subsidi menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program angkot pintar. Ia menilai dukungan pendanaan harus diberikan secara bersama-sama oleh Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Pusat agar sistem transportasi publik modern tetap layak secara ekonomi bagi para operator.

"Mesti ada bisnis model yang fix di mana nanti Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Provinsi sama-sama memberikan subsidinya. Karena harus disubsidi, tidak mungkin tidak," tegas Farhan.

(Whisnu M)