Tanpa Pasokan Baru, Stok Minyak Indonesia Diprediksi Bertahan 20 Hari

Ilustrasi Pexels

Tanpa Pasokan Baru, Stok Minyak Indonesia Diprediksi Bertahan 20 Hari

Muhamad Marup • 2 April 2026 19:51

Jakarta: Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Deendarlianto, menyoroti kerentanan ketahanan energi Indonesia di tengah Konflik Timur Tengah serta ancaman El Nino. Menurutnya, stok minyak Indonesia hanya mampu bertahan selama 20 hingga 22 hari tanpa pasokan baru.

"Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial," ujar Deen, melansir situs resmi UGM, Kamis, 2 April 2026.

Ia menjelaskan, kebutuhan minyak di Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari, tapi produksi minyak hanya mencapai 600 ribu barel per hari. Sehingga Indonesia memiliki ketergantungan terhadap impor minyak yang digunakan pada berbagai sektor terkait.

Deen mengapresiasi langkah antisipasi pemerintah dalam menghadapi krisis energi saat ini dengan penggunaan energi terbarukan. Misalnya, menerapkan kebijakan B50 yaitu pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada solar sehingga akan mengurangi kebutuhan impor solar.

"Kebijakan ini sudah ditetapkan dan mulai berlaku pada 1 Juli 2026," jelasnya.

Ia juga menekankan pemanfaatan lain seperti mendorong etanol, penggunaan sumber hayati seperti sorgum dan ketela untuk pengganti bensin. Menurutnya, pemerintah juga harus mendorong pengembangan Dimethyl Ether (DME) untuk pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).

"Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi," terangnya.

Deen menambahkan bahwa pengembangan energi membutuhkan perencanaan yang matang. Dengan adanya Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Pemerintah harus mengawal agar bisa terlaksana dengan baik dan mendorong pertumbuhan industri di bidang ini.


Ilustrasi Pexels

Ia menekankan, pengembangan energi nasional harus diiringi dengan pelaksanaan kebijakan nasional yang baik dan pengembangan industri energi nasional yang kuat baik energi fosil maupun energi terbarukannya.

"Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor,” katanya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)