Napak Tilas Restu Pendirian NU, Gus Yahya Lepas Longmarch dari Bangkalan ke Jombang

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menghadiri dan mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU dengan rute Bangkalan–Jombang. Dok. Istimewa

Napak Tilas Restu Pendirian NU, Gus Yahya Lepas Longmarch dari Bangkalan ke Jombang

Achmad Zulfikar Fazli • 4 January 2026 18:46

Bangkalan: Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menghadiri dan mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU dengan rute Bangkalan–Jombang. Kegiatan ini menjadi penanda perjalanan fisik sekaligus spiritual untuk menelusuri kembali jejak restu berdirinya Nahdlatul Ulama dari para muassis.

Sejak Minggu dini hari, 4 Januari 2026, Gus Yahya berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan. Dia mengawali kegiatan dengan Salat Subuh berjemaah di Masjid Syaichona Cholil, dilanjutkan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh. Cholil.

“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya di sela kegiatan, Minggu, 4 Januari 2026.

Usai tahlil, Gus Yahya melepas keberangkatan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch. Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas rute bersejarah saat Kiai As’ad Syamsul Arifin mengantarkan isyarat restu dari Syaichona Moh. Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.

Menurut Gus Yahya, perjalanan ini mengandung pesan penting bagi kepemimpinan NU hari ini. “Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU,” tegas Gus Yahya.
 

Baca Juga: 

Gus Yahya Tegaskan Persoalan Internal PBNU Sudah Selesai


Logo Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Medcom.id

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang, dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih. KHR. Ach. Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, untuk diteruskan kepada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan kepada Ketua Umum PBNU Gus Yahya.

Panitia penyelenggara menegaskan estafet simbolik tersebut menjadi penanda kesinambungan spiritual kepemimpinan NU. “Penyerahan tasbih kepada Ketua Umum PBNU menyimbolkan mandat agar roda organisasi dijalankan dengan zikir, ketenangan batin, dan nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan para muassis,” demikian pernyataan panitia penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami Nahdlatul Ulama lahir bukan semata dari kesepakatan formal, melainkan dari restu para guru, isyarat spiritual, dan ketulusan ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat untuk umat dan bangsa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)