Erupsi Anak Krakatau, Debu Tipis Terlihat di Sejumlah Wilayah Bandung

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya, Minggu, 6 September. Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan.

Erupsi Anak Krakatau, Debu Tipis Terlihat di Sejumlah Wilayah Bandung

Roni Kurniawan • 6 September 2026 13:15

Bandung: Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya, Minggu, 6 September. Sejumlah warga menemukan lapisan debu tipis pada kendaraan maupun permukaan benda yang berada di luar rumah.

Fenomena tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut berdasarkan analisis citra satelit, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang bergerak ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.

Pada Minggu pagi, BMKG menyebut sebaran abu pada ketinggian hingga 20 ribu kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Di Bandung, laporan mengenai keberadaan abu tipis mulai disampaikan warga. Debu berwarna keabu-abuan terlihat menempel pada sejumlah kendaraan yang diparkir di luar rumah.

"Tadi pas keluar liat ada debu menempel di mobil sejak pagi. Awalnya saya kira debu biasa, tapi pas lihat di medsos (media sosial) ini sepertinya debu dari Gunung (Anak) Krakatau itu," kata Agus warna Kabupaten Bandung Barat.

Hal serupa disampaikan Wisnu. Ia mengatakan keberadaan debu tersebut baru diketahui setelah memperhatikan permukaan kendaraan dan halaman rumah.


Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya, Minggu, 6 September. Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan.

"Iya tadi saya kira debu biasa juga, tapi ko semua, jok motor terus mobil juga, cukup tebal tadi," kata Wisnu warga asal Cimahi.

Sementara itu, sebagian warga memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Langkah tersebut terutama dilakukan warga lanjut usia yang merasa debu cukup mengganggu ketika terhirup.

"Jadinya pakai masker kalau keluar, udah mah suka pengap kalau kena debu," cetus Neti warga KBB.


(Deny Irwanto)