Ilustrasi Khotbah Jumat (DKM Nursiah Daud Paloh/Syarifuddin)
Khotbah Jumat tentang Kemarau dan Doa Memohon Hujan
Putri Purnama Sari • 4 September 2026 05:43
Jakarta: Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kondisi kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, pertanian, hingga kebutuhan sehari-hari.
Dalam ajaran Islam, ketika menghadapi kekeringan dan hujan yang tak kunjung turun, umat Muslim dianjurkan memperbanyak istigfar, berdoa, serta memohon pertolongan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk ibadah yang dapat dilakukan adalah salat istisqa atau salat meminta hujan.
Berikut contoh khotbah Jumat tentang kemarau yang dapat menjadi bahan renungan bagi jemaah.
Khutbah Pertama

Jemaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika kita menghadapi berbagai ujian dan kesulitan.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Kemarau dan kekeringan merupakan salah satu kondisi yang dapat mengingatkan manusia bahwa air adalah nikmat besar dari Allah SWT. Selama air tersedia, terkadang manusia lupa untuk mensyukurinya. Namun, ketika hujan tidak turun dalam waktu yang lama dan sumber air mulai berkurang, kita kembali menyadari betapa berharganya nikmat tersebut.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

Artinya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al-Mu'minun: 18)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa air merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri dan dijaga. Manusia tidak boleh merasa memiliki kuasa penuh atas alam, sebab segala sesuatu pada hakikatnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Ketika menghadapi kemarau dan kekeringan, hendaknya kita tidak hanya mengeluh, tetapi juga melakukan introspeksi diri. Perbanyaklah istigfar, bertobat kepada Allah SWT, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
Artinya: “Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.’” (QS. Nuh: 10–11)
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita pentingnya memperbanyak istigfar. Dalam kondisi kekeringan, doa dan istigfar menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk memohon pertolongan Allah SWT.
Namun, ikhtiar tersebut juga harus disertai usaha nyata. Kita perlu menggunakan air secukupnya, tidak melakukan pemborosan, menjaga sumber air, serta tidak merusak lingkungan.
Semoga kemarau yang kita hadapi menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Khotbah Kedua

Jemaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan memperbanyak doa ketika menghadapi kemarau. Kita memohon agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat, mencukupi kebutuhan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Mari kita juga menjaga lingkungan dan menggunakan air dengan bijaksana. Jangan sampai nikmat yang diberikan Allah SWT justru kita sia-siakan melalui pemborosan dan kerusakan alam.
Marilah kita berdoa:

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat, tidak membahayakan, segera dan tidak ditunda.”
Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, memberikan kecukupan air kepada seluruh makhluk-Nya, serta menurunkan hujan yang membawa keberkahan dan manfaat.