Ilustrasi. Foto: Freepik.
Tertinggi dalam 3 Tahun, Harga Gas Berjangka Eropa Tembus Rp1,4 Juta per MWh
Eko Nordiansyah • 2 September 2026 15:38
Jakarta: Harga gas di Eropa mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kontrak berjangka gas Eropa naik sekitar dua persen menjadi sekitar 71,50 euro atau setara Rp1,47 juta (kurs 1 euro=Rp20.568) per megawatt jam (MWh).
Melansir Tagesschau, Rabu, 2 September 2026, harga gas berjangka Eropa tercatat meningkat sekitar 20 persen sepanjang Agustus 2026.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan akibat situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga gas.
Rendahnya tingkat penyimpanan gas picu kekhawatiran pasokan
Pada saat yang sama, kekhawatiran pasar juga dipicu rendahnya tingkat keterisian fasilitas penyimpanan gas di Eropa. Berdasarkan data Gas Infrastructure Europe, tingkat keterisian fasilitas penyimpanan gas saat ini berada di kisaran 65 persen.Angka tersebut menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 2011 dan lebih dari 12 poin persentase di bawah level pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi serupa terjadi di Jerman. Fasilitas penyimpanan gas di negara tersebut saat ini hanya terisi sedikit di atas 50 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 67 persen.
Pelaku industri energi menilai target pemerintah Jerman untuk mengisi fasilitas penyimpanan gas hingga 80 persen pada 1 November 2026 akan sulit tercapai.
Ketentuan pengisian sebagian besar fasilitas penyimpanan gas hingga setidaknya 80 persen pada 1 November merupakan kebijakan yang diterapkan setelah krisis gas pada 2022.

(Ilustrasi. Foto: Dok PLN EPI)
Saat itu, perang Rusia-Ukraina memicu gangguan pasokan gas ke Eropa dan menyebabkan harga energi melonjak. Pemerintah Jerman kemudian menetapkan kewajiban bagi operator untuk memenuhi tingkat minimum penyimpanan gas. Ketentuan tersebut kemudian disesuaikan pada 2025 menjadi level yang berlaku saat ini.
Untuk mencapai tingkat keterisian 80 persen pada 1 November, Eropa membutuhkan tambahan pasokan gas yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar 25 miliar meter kubik gas dibutuhkan selama periode Agustus hingga Oktober, atau sembilan miliar meter kubik lebih banyak dibandingkan tahun lalu.
Namun, dengan mempertimbangkan kondisi pasokan saat ini, Uni Eropa memperkirakan hanya sekitar 14 miliar meter kubik gas yang tersedia.
Harga gas dapat melonjak lebih tinggi
Keterbatasan pasokan tersebut berpotensi mendorong harga gas lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Analis Morningstar memperkirakan harga gas dapat melonjak hingga EUR90 sampai 120 euro per MWh apabila Eropa menghadapi musim dingin yang ekstrem.Kenaikan juga dapat terjadi karena Eropa harus bersaing lebih ketat dengan negara-negara Asia untuk mendapatkan pasokan gas yang terbatas.
Meski tingkat keterisian fasilitas penyimpanan masih rendah, Kementerian Federal untuk Urusan Ekonomi dan Energi Jerman menilai kondisi pasokan gas saat ini masih terkendali. Pemerintah menyebut belum terdapat indikasi keamanan pasokan gas Jerman berada dalam risiko.
Menteri Federal untuk Urusan Ekonomi dan Energi Jerman Katherina Reiche juga menolak adanya intervensi pemerintah dalam proses pengisian fasilitas penyimpanan gas.
"Menteri dan Kementerian Urusan Ekonomi dan Energi saat ini berasumsi bahwa pasar akan terus mengisi fasilitas penyimpanan. Itu merupakan tugas pasar," ujar seorang juru bicara kementerian.
Menurutnya, mekanisme pasar selama ini tetap mampu mendorong pengisian fasilitas penyimpanan gas.
"Dan itu selalu terjadi," katanya. (Selsha Septifanie Gunawan)