Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus USD95/Barel
Husen Miftahudin • 2 September 2026 07:56
Houston: Harga minyak mentah dunia melonjak pada Selasa waktu setempat setelah militer Amerika Serikat (AS) menyatakan akan kembali melakukan serangan terhadap Iran. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global, terutama melalui Selat Hormuz.
Mengutip Investing.com, Rabu, 2 September 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 5 persen menjadi USD95,05 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober melonjak 5,7 persen menjadi USD90,68 per barel.
Kenaikan tersebut membawa harga minyak dunia kembali menuju ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Adapun harga minyak dunia tertinggi tahun ini tercipta pada akhir April 2026 yang menyentuh level di atas USD126 per barel imbas eskalasi konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa mengatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Media pemerintah Iran secara terpisah melaporkan serangan tersebut menghantam sebuah pabrik di Qeshm dan sejumlah target nonmiliter di Hormozgan.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah kedua negara sebelumnya terlibat kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump sempat menggeser pendekatan dari aksi militer menuju tekanan ekonomi.
Namun, operasi militer kembali berlangsung pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli. CENTCOM menyebut serangan tersebut sebagai tindakan terbatas dan tepat terhadap pasukan IRGC yang diduga memasang ranjau di Selat Hormuz.
Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Yordania melaporkan pihaknya berhasil mencegat dan menghancurkan delapan rudal.
Trump pada Selasa mengatakan serangan terbaru AS merupakan respons terhadap upaya peletakan ranjau serta serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
"Jika negara Iran yang gagal itu membalas serangan yang sangat beralasan ini, mereka akan dihantam lagi dengan lebih keras dan lebih tinggi, tetapi itu bukanlah serangan terbesar dari semuanya, serangan terbesar sedang menunggu di balik layar dan, ketika itu berakhir, hanya sedikit yang akan tersisa dari Republik Islam Iran!" kata Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Media pemerintah Iran kemudian melaporkan IRGC menyerang Camp Titin, pangkalan Marinir AS di Yordania, menggunakan rudal balistik.
Baca Juga :
Harga Minyak Naik, Rupiah Turun ke Rp17.744/USD
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Selat Hormuz jadi perhatian
Berakhirnya jeda aksi militer secara langsung selama beberapa pekan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak. Kondisi tersebut terjadi ketika lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz sudah berada pada tingkat yang sangat rendah.
Kpler mencatat hanya lima penyeberangan kapal yang dikonfirmasi melalui selat tersebut pada Senin. United Kingdom Maritime Trade Operations juga melaporkan sebuah kapal tanker dihantam tiga proyektil tak dikenal saat keluar dari Selat Hormuz pada Senin. Insiden tersebut kembali menyoroti risiko terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak sebagian menutupi upaya negara-negara produsen yang tergabung dalam OPEC+ untuk meningkatkan produksi.
Kelompok tersebut menyetujui tambahan kuota produksi sekitar 188 ribu barel per hari mulai September. Kebijakan itu sekaligus menyelesaikan rencana pengurangan produksi sukarela sebelumnya.
Di sisi lain, Rusia pada akhir pekan lalu memutuskan memperpanjang larangan ekspor diesel hingga 30 September. Kebijakan tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar olahan di pasar global.
Sementara itu, Trump pada Minggu mengatakan minyak yang diperoleh melalui kesepakatan baru dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS.
Cadangan tersebut saat ini berada pada level terendah dalam 44 tahun. Namun, masih belum jelas seberapa cepat kesepakatan dengan Venezuela dapat menghasilkan tambahan pasokan minyak mentah bagi AS.