Ilustrasi. Foto: Freepik.
Penguatan Domestik Jadi Benteng Pertahanan Ekonomi di Tengah Konflik
Eko Nordiansyah • 11 March 2026 19:31
Jakarta: Dunia saat ini sedang terjebak dalam kondisi sustained tension (ketegangan yang berkepanjangan). Dalam kacamata geopolitik, Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pemahaman mendalam Proxy War masa kini bukan lagi sekadar perebutan wilayah fisik, melainkan penguasaan urat nadi kehidupan, yaitu energi, air, dan jalur logistik.
?Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi, Bungas T Fernando Duling menilai navigasi geopolitik Indonesia kini fokus pada penguatan domestik, sebagai benteng pertahanan ekonomi. Di era proteksionisme global meningkat, Indonesia mengambil posisi sebagai "penyeimbang yang mandiri".
?"Indonesia sadar menjadi pengikut salah satu blok hanya akan menjadikan sumber daya nasional sebagai 'bahan bakar' bagi kemajuan negara lain. Penguatan domestik adalah jawaban atas ancaman ketergantungan global," kata Fernando dalam keterangannya, Rabu, 11 Maret 2026.
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
?Reorientasi DMO
Sebagai eksportir batu bara termal nomor satu dunia, Indonesia memegang kartu as dalam keamanan energi global. Namun, literatur ekonomi politik baru menekankan pada penguatan Domestic Market Obligation (DMO) sebagai senjata geostrategis.?"Ada paradigma baru. Jika sebelumnya Indonesia bangga menyuplai energi untuk industri Tiongkok, India, dan Jepang, kini logikanya dibalik, batu bara harus menjadi 'darah' bagi industrialisasi dalam negeri," ujarnya.
Ia pun menegaskan, visi listrikisasi 2026 merupakan jantung kemandirian. Langkah tersebut akan mengubah ketergantungan pada BBM impor (yang membebani APBN) menjadi energi berbasis listrik dari kekayaan bumi sendiri merupakan langkah defensif sekaligus ofensif dalam menghadapi volatilitas harga komoditas global.
Penguatan logistik lokal
Poin krusial dalam transformasi ini adalah peran PT KAI dan KAI Logistik (KALOG). Rencana pembangunan lintas rel Trans-Kalimantan dan wilayah luar Jawa yang fokus pada angkutan sumber daya alam (SDA) menandai pergeseran paradigma dari human-centric (angkutan penumpang) kembali ke fungsinya sebagai Heavy Haul Railway.?"Peran strategis KAILOG adalah bertindak sebagai integrator logistik di mulut tambang dan pelabuhan, memastikan supply chain energi domestik terjaga tanpa kebocoran," kata Fernando.
Ia menegaskan, dalam visi rel komoditas, rel bukan lagi sekadar infrastruktur besi, melainkan alat mobilisasi kekayaan negara agar nilai tambahnya tetap berada di dalam negeri, sejalan dengan konsep hilirisasi nasional.
?Fernando menyatakan, di tengah perebutan sumber daya dunia, Indonesia tengah membangun benteng melalui kedaulatan energi. Jika infrastruktur logistik yang dipimpin oleh KAI dan KAILOG mampu menciptakan efisiensi sistemik, maka Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi akan memimpin di persimpangan jalan globalisasi.
?"Siapa yang menguasai jalur logistik dan mandiri secara energi, dialah yang memegang kunci kedaulatan di abad ke-21," pungkasnya.