Menlu Ukraina Andrii Sybiha bersama Menlu Polandia Radoslaw Sikorski di Warsawa, Jumat, 3 Juli 2026. (Andrii Sybiha / X)
Ukraina dan Polandia Bahas Rekonsiliasi, Perkuat Kerja Sama Hadapi Rusia
Willy Haryono • 4 July 2026 18:10
Warsawa: Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengusulkan paket "anti-krisis" kepada Polandia untuk meredakan ketegangan diplomatik terkait isu sejarah, seraya memperingatkan bahwa memburuknya hubungan kedua negara hanya akan menguntungkan Rusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Sybiha setelah bertemu Menteri Luar Negeri Polandia Rados?aw Sikorski di Warsawa pada Jumat kemarin.
Hubungan kedua negara belakangan memanas setelah Ukraina menamai salah satu unit militernya dengan nama sebuah formasi sejarah yang menuai kritik dari pemerintah Polandia.
Untuk meredakan ketegangan, Sybiha mengajukan sejumlah langkah diplomatik, termasuk konsultasi langsung antara kementerian luar negeri kedua negara, pertemuan para sejarawan Perang Dunia II dari Ukraina dan Polandia, serta pelibatan tokoh agama guna mendukung rekonsiliasi dan dialog bilateral.
Sybiha juga menegaskan penamaan unit militer tersebut tidak dimaksudkan sebagai tindakan anti-Polandia. Ia menambahkan Ukraina tetap memberikan izin bagi operasi pencarian dan ekskavasi jenazah yang berkaitan dengan sejarah kedua negara.
"Polandia sangat penting bagi Ukraina, sebagaimana Ukraina penting bagi Polandia. Kita memiliki musuh bersama, yaitu Rusia, dan menghadapi tantangan yang sama berupa agresi Rusia," tulis Sybiha melalui platform X dan dikutip Kyiv Post, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menurutnya, Ukraina tidak hanya mempertahankan keamanan negaranya sendiri, tetapi juga keamanan Polandia dan Eropa secara keseluruhan.
Selain membahas isu sejarah, kedua menteri juga mendiskusikan perkembangan perang di Ukraina, serangan jarak jauh terhadap infrastruktur militer Rusia, kerja sama pertahanan, serta persiapan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara.
Rusia sebagai Ancaman Bersama
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa Rusia berupaya memanfaatkan perbedaan politik dan sejarah antara Kyiv dan Warsawa.Sejumlah laporan yang mengutip pengarahan intelijen Amerika Serikat kepada Polandia sebelumnya menyebut Rusia diduga mempertimbangkan berbagai bentuk provokasi di wilayah Polandia atau di sayap timur NATO untuk menguji respons aliansi.
Skenario yang disebutkan antara lain serangan drone atau rudal, sabotase terhadap infrastruktur penting, maupun insiden terbatas di perbatasan Rusia atau Belarus yang dapat digambarkan sebagai kecelakaan.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak juga membahas kerja sama industri pertahanan, proyek rekonstruksi yang melibatkan perusahaan Ukraina dan Polandia, penyederhanaan prosedur bea cukai, serta pengembangan infrastruktur pos perbatasan.
Sybiha mengatakan Polandia kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kemampuan pertahanan Ukraina.
"Sudah saatnya mengesampingkan emosi," ujar Sybiha.
Ia menegaskan Ukraina dan Polandia memiliki pengalaman sejarah serta kemauan politik yang cukup untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog, sehingga tidak memberikan keuntungan bagi Rusia.
Baca juga: Zelensky Kembalikan Penghargaan Tertinggi Polandia usai Dicabut Nawrocki