Banjir Rendam 7 Kecamatan, Kendari Tetapkan Status Tanggap Darurat

Kondisi banjir yang merendam rumah warga di Kendari, Sulawesi Tenggar. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra

Banjir Rendam 7 Kecamatan, Kendari Tetapkan Status Tanggap Darurat

Lukman Diah Sari • 12 May 2026 14:29

Kendari: Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menaikkan status penanganan bencana menjadi tanggap darurat setelah banjir besar melanda tujuh kecamatan di daerah tersebut. Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan penetapan ini merupakan respons atas hujan intensitas tinggi yang menyebabkan luapan air di tujuh kecamatan, merusak lahan pertanian, serta memaksa warga untuk mengungsi.

"Melihat kondisi Kota Kendari sekarang, status tanggap darurat bencana perlu ditetapkan. Penanganannya juga harus dibarengi aksi nyata dan koordinasi yang makin kuat," kata Siska, saat ditemui di Kendari, Selasa, 12 Mei 2026, melansir Antara.

Dia menyebutkan bahwa berdasarkan data sementara banjir telah berdampak pada 797 rumah dan 3.517 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan, meliputi Baruga, Poasia, Kambu, Kendari Barat, Wuawua, Kadia, dan Abeli.

"Selain permukiman, sekitar 100 hektare sawah siap panen dilaporkan ikut terendam dan terancam mengalami gagal panen," ujarnya.

Kondisi banjir yang merendam rumah warga di Kendari, Sulawesi Tenggar. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra

Siska juga menjelaskan, persoalan banjir di Kota Kendari tidak dapat diselesaikan secara parsial. Lantaran, kata dia, wilayah tersebut merupakan daerah hilir yang menjadi muara dari aliran air beberapa kabupaten di sekitarnya.

"Kendari ini menjadi muara dari beberapa daerah. Ketika hujan turun sebentar saja sudah terjadi banjir, apalagi kalau hujan berlangsung berhari-hari seperti saat ini," jelas Siska.

Ia menekankan pentingnya kehadiran pemerintah secara langsung di tengah masyarakat dan meminta koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sultra maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) ditingkatkan untuk penanganan yang lebih permanen.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Kendari Sudirman menambahkan bahwa upaya normalisasi sungai yang telah dilakukan di beberapa titik, seperti Kali Korumba dan Lorong Lasolo, mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya debit banjir di kawasan tersebut.

"Kami kini fokus pada langkah darurat, termasuk evakuasi warga, penyaluran logistik, serta pembersihan material sisa banjir di rumah-rumah penduduk," tambah Sudirman.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Kendari Cornelius Padang menjelaska, pihaknya telah menetapkan status siaga bencana sejak 6 Mei 2026. Namun, meluasnya titik terdampak akibat cuaca ekstrem mendorong perlunya peningkatan status menjadi tanggap darurat agar penanganan lebih optimal.

"Selama empat hari terakhir intensitas hujan sangat tinggi. Ada sekitar 15 titik banjir dan beberapa di antaranya terdampak cukup berat," sebut Cornelius.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)