Peragaan busana saat peluncuran JFW 2026. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Jogja Fashion Week 2026 Gandeng Komunitas Fesyen di ASEAN
Ahmad Mustaqim • 12 February 2026 21:11
Yogyakarta: Jogja Fashion Week (JFW) 2026 mulai mengepakkan sayap dengan melibatkan komunitas internasional. Pihak penyelenggara telah menjajaki komunikasi dengan komunitas fesyen dari sejumlah negara di ASEAN.
"Salah satu misi JFW 2026, menggandeng kerja sama komunitas fesyen dari luar negeri. Beberapa dikontak melalui APPMI, komunitas dari Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, dan Timor Leste," kata Project Manager Jogja Fashion Week 2026 Aulia Sunhandika saat peluncuran JFW 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis, 12 Februari 2026.
Langkah itu dilakukan karena ada akses penerbangan langsung dari Yogyakarta ke sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Singapura. Selain itu, Aulia menjelaskan bahwa masyarakat dari negara-negara tersebut juga bisa mengakses produk yang sama dengan produk Indonesia, serta memiliki kesamaan budaya sebagai sesama warga Melayu.
Baca Juga :
Indonesia Bidik Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia
"Sehingga produk-produk dari Yogyakarta diharap diserap masyarakat di ASEAN. Dahulu, Bandung menjadi tempat belanja fesyen masyarakat Malaysia karena ada pesawat direct, sekarang gak ada. Jogja kini ada pesawat direct ke Malaysia, peluang mengembangkan fesyen dari Yogyakarta," ujarnya.
Ia mengatakan pasar fesyen ke negara-negara Eropa belum dijajaki karena beberapa faktor, seperti harus mengganti ukuran, bahan, hingga corak. Menurutnya, pasar ASEAN, dengan sejarah masyarakat yang serumpun, dianggap memiliki peluang yang lebih besar.
JFW yang dimotori Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama sejumlah pihak akan berlangsung pada 13-16 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC). Selain pameran, acara ini juga menyajikan edukasi dan fashion show, yang menjadi media interaksi dan transaksi efektif bagi pelaku usaha di bidang fesyen guna menciptakan komunikasi ekonomi yang baik dan berkelanjutan.
"Tahun 2026 ini merupakan tahun ke-21 bagi pelaksanaan Jogja Fashion Week. Saat ini pendanaannya sudah dibiayai pihak luar sehingga pembiayaan dari pemerintah semakin kecil," ucapnya.

Peragaan busana saat peluncuran JFW 2026. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, mengatakan bahwa perputaran uang di JFW hampir selalu meningkat setiap tahunnya. Pada gelaran 2024, perputaran uang mencapai Rp2 miliar dan meningkat menjadi Rp2,6 miliar pada 2025.
"Pada 2026 ini target awal omzetnya Rp2,5 miliar dengan jumlah pengunjung 16 ribu orang, artinya peningkatan sekitar 20-25 persen," kata Yuna.
Ia mengatakan 'Roots of Resonance, Beyond' menjadi tema yang diangkat pada JFW 2026. Menurut dia, tema diangkat dengan berawal dari akar budaya fesyen Yogyakarta yang kaya nan adiluhung, sumber inspirasi bagi terciptanya berbagai karya mode dan wastra.
Nilai tersebut kemudian beresonansi tidak hanya menjadi warisan yang sangat berharga, namun terus berkembang terhubung dengan peradaban, senantiasa relevan dengan dinamika tren fesyen, memadukan nilai tradisi, teknologi, dan kreativitas menjadi mahakarya yang dapat diterima untuk masyarakat dunia.
"Sehingga diharapkan JFW ini menjadi pengungkit ekosistem industri kreatif, khusus fesyen yang punya pasar nasional dan global. Jogja dengan kemampuan SDM dan budaya, bisa memiliki posisi di peta fesyen Indonesia," katanya.

Peragaan busana saat peluncuran JFW 2026. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Istri Wakil Gubernur DIY, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Paku Alam X mengatakan Jogja bukan sekadar Kota Budaya melainkan episentrum yang terus berdenyut, termasuk dalam dunia fesyen. Jogja Fashion Week 2026 diharapkan terus menunjukkan bahwa produk lokal dapat bersaing di tingkat dunia.
"Fesyen dari Yogyakarta bisa menjadi warisan generasi sampai panggung di internasional, sekaligus memperkuat ekosistem di DIY dan Indonesia," ujarnya.