Merajut Peluang Kolaborasi Global dalam Industri Halal Dunia

Ilustrasi halal global. (visi.cloud)

Merajut Peluang Kolaborasi Global dalam Industri Halal Dunia

Willy Haryono • 9 February 2026 15:01

Jakarta: Industri halal global terus menunjukkan pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya populasi Muslim dunia dan kesadaran konsumen lintas agama terhadap produk yang aman, etis, dan berkelanjutan.

Tren ini tercermin dalam laporan State of the Global Islamic Economy Report, yang mencatat bahwa sektor halal telah berkembang menjadi bagian penting dari ekonomi global.

Berdasarkan laporan tersebut, industri halal kini tidak lagi dipandang sebagai pasar berbasis agama semata, melainkan sebagai sektor ekonomi lintas negara dan lintas industri yang terbuka terhadap kolaborasi internasional.

Nilai ekonomi halal dunia mencakup sektor pangan dan minuman, fesyen, farmasi, kosmetik, pariwisata, hingga keuangan syariah. Negara-negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand justru tampil progresif dalam mengembangkan infrastruktur halal untuk menjangkau pasar internasional.

Fenomena ini membuka peluang kerja sama global yang lebih luas, baik dalam bentuk investasi, alih teknologi, maupun penguatan rantai pasok halal yang terstandar secara internasional.

Standarisasi sebagai Fondasi Kolaborasi

Salah satu peluang terbesar kolaborasi global terletak pada harmonisasi standar halal. Perbedaan sistem sertifikasi antarnegara kerap menjadi hambatan perdagangan. Oleh karena itu, kerja sama antara lembaga sertifikasi halal nasional, seperti Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM) di Malaysia, MUI di Indonesia, dan otoritas halal di Timur Tengah, menjadi kunci untuk menciptakan saling pengakuan sertifikat. Langkah ini tidak hanya memperlancar arus perdagangan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen global terhadap produk halal lintas negara.

Inovasi dan Transfer Teknologi

Kolaborasi global juga membuka ruang besar bagi inovasi. Negara maju dengan keunggulan riset dan teknologi dapat bermitra dengan negara berkembang yang memiliki basis pasar dan sumber daya manusia melimpah. Dalam sektor farmasi dan kosmetik halal, misalnya, riset bahan baku halal, proses produksi bersih, serta teknologi pelacakan rantai pasok menjadi bidang strategis yang dapat dikembangkan bersama. Sinergi ini mempercepat lahirnya produk halal bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Diplomasi Ekonomi Halal

Industri halal kini juga menjadi instrumen diplomasi ekonomi. Forum internasional, pameran dagang halal, dan perjanjian kerja sama bilateral memberi ruang bagi negara-negara untuk memperluas pengaruh ekonominya melalui pendekatan yang inklusif. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki peluang besar menjadi simpul kolaborasi halal global dengan menjembatani pasar Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Pada akhirnya, peluang kolaborasi global industri halal tidak hanya menjanjikan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendorong praktik bisnis yang etis, berkelanjutan, dan saling menguntungkan. Di tengah dinamika ekonomi dunia yang terus berubah, kerja sama lintas negara dalam industri halal menjadi jalan strategis untuk menciptakan stabilitas, inovasi, dan kesejahteraan bersama dalam jangka panjang.

Pembahasan lebih lanjut mengenai ekonomi halal dan penguatan ekosistem syariah akan diulas dalam Metro TV Sharia Economic Forum 2026. Forum ini digelar pada 12 Februari 2026 pukul 09.00 WIB dan disiarkan melalui YouTube Metro TV. (Keysa Qanita)

Baca juga:  5 Praktik Terbaik Pengembangan Ekosistem Halal Global

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)