Bahlil: Program B50 Berpotensi Hemat Devisa Rp170 Triliun dan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Tangkapan layar YouTube Metro TV.

Bahlil: Program B50 Berpotensi Hemat Devisa Rp170 Triliun dan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja

Husen Miftahudin • 9 July 2026 15:29

Karawang: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan implementasi program biodiesel B50 diproyeksikan meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di dalam negeri. Peningkatan konsumsi tersebut dinilai dapat memperkuat kepastian pasar bagi petani sawit.

Bahlil mengatakan kebutuhan CPO untuk mendukung program B50 diperkirakan naik dari 15,2 juta ton menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton.

"Program B50 ini meningkatkan kebutuhan CPO kita dari 15,2 juta menjadi 16,3 juta sampai dengan 17 juta ton. Sehingga dapat membantu memberikan kepastian pasar bagi petani sawit," kata Bahlil dalam Peresmian dan Peluncuran Bahan Bakar Biodiesel B50 di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.

Menurut Bahlil, peningkatan pemanfaatan CPO di pasar domestik menjadi langkah strategis ketika harga ekspor melemah atau permintaan dari negara lain menurun. Dalam kondisi tersebut, sebagian produksi CPO dapat dialihkan untuk mendukung program hilirisasi melalui implementasi B50.

"Kalau pengusaha-pengusaha kita, Pak, katakanlah CPO harganya di luar rendah dan negara lain tidak mau, ya sudah Pak kita sebagian kita sisihkan saja untuk kita bangun hilirisasi B50 supaya harga petani naik, industri naik, negara sejahtera," tutur dia.
 



(Ilustrasi B50. Foto: Gapki.id)
 

Hemat devisa hingga Rp170 triliun


Selain memperluas penyerapan CPO di dalam negeri, program B50 diperkirakan meningkatkan efisiensi devisa negara. Bahlil menyebut program B40 saat ini mampu menghemat devisa sekitar Rp133 triliun. Dengan implementasi B50, nilai penghematan diproyeksikan meningkat menjadi Rp170 triliun.

"Nah dengan implementasi B50, kita hemat devisa hingga Rp170 triliun. Jadi dari B40 ke B50 kita bisa menahan devisa kita Rp170 triliun, jadi ini semakin impor kita berkurang," kata dia.

Bahlil memaparkan, implementasi B50 juga diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri CPO dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.

Di sisi ketenagakerjaan, program tersebut diproyeksikan menaikkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada implementasi B40 menjadi sekitar 2,1 juta orang melalui B50.

Selain manfaat ekonomi, B50 diperkirakan memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Bahlil menyebut penurunan emisi meningkat dari 39,66 juta ton karbon dioksida (CO2) menjadi sekitar 44,56 juta ton CO2.

"Lebih dari itu dalam rangka menjaga bumi kita adalah meningkatkan penurunan emisi gas rumah kaca dari 39,66 juta ton CO2 menjadi sekitar 44,56 juta ton CO2," tutur Bahlil.

(Husen Miftahudin)