Deklarasi New Delhi: BRICS Tolak Pemindahan Paksa Warga Palestina dari Gaza

KTT ke-18 BRICS berlangsung di New Delhi, India pada 12-13 September 2026. (X / @BricsIndia2026)

Deklarasi New Delhi: BRICS Tolak Pemindahan Paksa Warga Palestina dari Gaza

Willy Haryono • 12 September 2026 20:06

New Delhi: Jajaran pemimpin BRICS menolak keras segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza, seraya menyerukan upaya mencegah dan menyelesaikan konflik secara damai di tengah perang di Iran dan Ukraina.

Seruan tersebut tercantum dalam Deklarasi New Delhi yang disepakati secara bulat pada hari pertama KTT BRICS di New Delhi, India, Sabtu, 12 September 2026.

Dalam deklarasi tersebut, para pemimpin BRICS menyatakan “keprihatinan mendalam” atas kekerasan yang masih berlangsung di Gaza meski kesepakatan gencatan senjata telah tercapai pada Oktober 2025.

Mereka menyerukan penghentian “segala kebijakan yang bertujuan melakukan pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza."

BRICS juga menyatakan keprihatinan terhadap berbagai pengaturan yang dinilai dapat mengurangi hak-hak yang tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina serta melegitimasi atau memperpanjang pendudukan.

“Kami menegaskan kembali bahwa solusi yang adil dan langgeng bagi konflik Israel-Palestina hanya dapat dicapai melalui cara-cara damai dan bergantung pada pemenuhan hak-hak sah rakyat Palestina, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri dan kembali,” bunyi deklarasi tersebut, seperti dilansir dari Anadolu Agency.

BRICS Dorong Diplomasi

Dalam deklarasi yang sama, negara-negara BRICS menyoroti kondisi global yang ditandai polarisasi dan ketidakpercayaan.

Mereka menyerukan agar masyarakat internasional menghadapi berbagai tantangan dan ancaman keamanan melalui langkah-langkah politik dan diplomatik untuk mengurangi potensi konflik.

BRICS juga menekankan pentingnya upaya pencegahan konflik, termasuk dengan mengatasi akar penyebab konflik.

“Kami mendorong peran aktif organisasi regional dalam pencegahan dan penyelesaian konflik serta mendukung seluruh upaya yang berkontribusi terhadap penyelesaian krisis secara damai,” demikian deklarasi tersebut.

Pernyataan itu disampaikan ketika perang Rusia-Ukraina masih berlangsung dan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Khawatir Risiko Konflik Nuklir

Selain konflik bersenjata, para pemimpin BRICS menyatakan kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko konflik nuklir. Mereka menyerukan perlucutan senjata, pengendalian persenjataan, dan nonproliferasi nuklir.

Deklarasi tersebut juga menyatakan “keprihatinan serius” terhadap serangan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil serta fasilitas nuklir yang digunakan untuk tujuan damai.

“Perlindungan, keselamatan, dan keamanan nuklir harus selalu ditegakkan, termasuk dalam konflik bersenjata, untuk melindungi manusia dan lingkungan dari bahaya,” kata para pemimpin BRICS.

Deklarasi New Delhi menjadi pernyataan bersama utama dalam KTT BRICS yang berlangsung selama dua hari di ibu kota India.

Baca juga: Modi Desak Reformasi DK PBB dan Kesetaraan Peran Global South di KTT BRICS

(Willy Haryono)