Tempe menjadi jembatan diplomasi budaya Indonesia-AS di San Francisco. (KJRI San Francisco)
Tempe Jadi Jembatan Diplomasi Budaya Kuliner Indonesia-AS di San Francisco
Willy Haryono • 11 May 2026 14:11
San Francisco: Di Wisma Indonesia San Francisco, tempe hadir bukan hanya sebagai hidangan, melainkan sebagai cerita tentang budaya, pangan sehat, keberlanjutan, dan persahabatan Indonesia–Amerika Serikat.
Melalui kegiatan From Tempeh to Table: An Indonesian Vegan Superfood Cooking Experience, KJRI San Francisco memperkenalkan tempe kepada sekitar 140 peserta yang terdiri atas anggota San Francisco Vegan Society (SFVS), para sahabat Indonesia, komunitas kuliner, dan para istri Konsul Jenderal yang tergabung dalam Legion of the San Francisco Consular Corps (LSFCC).
Kegiatan yang diselenggarakan KJRI San Francisco bekerja sama dengan SFVS dan Reculture Foods ini menampilkan sesi pengenalan sejarah dan budaya tempe, lokakarya pembuatan tempe, demonstrasi masakan vegan Indonesia, serta ditutup dengan jamuan makan siang berbahan dasar tempe dan kuliner nabati Nusantara.
Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana, menekankan bahwa tempe adalah lebih dari sekadar makanan sehari-hari. Tempe merupakan bagian dari warisan kuliner Indonesia yang lahir dari teknik pengolahan pangan asli Indonesia dan berkembang melalui pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
“Tempe adalah contoh indah pertemuan antara kekayaan hayati dan kebudayaan. Di dalamnya ada kedelai, ada jamur Rhizopus oligosporus, dan ada tradisi fermentasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia,” ujar Konjen Yohpy, dalam siaran pers KJRI San Francisco yang diterima Metrotvnews.com, Senin, 11 Mei 2026.
Ia juga menyoroti dimensi hubungan Indonesia–Amerika Serikat dalam perjalanan tempe. Sebagian besar tempe di Indonesia saat ini dibuat dari kedelai yang dibudidayakan oleh petani Amerika. Sebaliknya, teknik membuat tempe berasal dari tradisi pangan Indonesia yang kini semakin dikenal di Amerika Serikat.
“Dengan pemahaman ini, tempe juga menjadi simbol persahabatan kedua bangsa. Tempe menunjukkan bagaimana pangan dapat mempertemukan bangsa, budaya, dan negara,” tambahnya.
Pengakuan UNESCO
Acara ini juga berlangsung di tengah upaya Pemerintah Indonesia menominasikan budaya pembuatan tempe ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Keputusan atas nominasi tersebut diharapkan diumumkan pada tahun ini. Pengakuan tersebut dipandang penting untuk mengukuhkan kedudukan tempe sebagai tradisi pangan yang sehat, berkelanjutan, dan berbasis komunitas.Dukungan terhadap nominasi tersebut juga disampaikan oleh SFVS. Wakil Presiden SFVS, Dr. Ravinder Sehgal, menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, peserta belajar melihat tempe dalam konteks yang lebih luas.
“Hari ini kami belajar bahwa tempe jauh lebih dari sekadar sumber protein yang sehat dan berkelanjutan. Tempe mewakili pengetahuan, keterampilan, dan tradisi budaya Indonesia yang diwariskan lintas generasi melalui budaya pembuatan tempe,” ujar Dr. Ravinder.
Ia menambahkan bahwa Dewan SFVS menyatakan dukungan kuat terhadap nominasi Indonesia atas budaya pembuatan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Atas nama SFVS, Dr. Ravinder menegaskan bahwa budaya pembuatan tempe layak memperoleh pengakuan global.
“San Francisco Vegan Society sangat mendukung pengakuan budaya pembuatan tempe sebagai tradisi Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Sebagai praktik kuliner nabati yang berakar kuat, pembuatan tempe merepresentasikan budaya pangan yang berkelanjutan, kaya warisan, dan layak memperoleh pengakuan global. Makna budaya, sejarah, dan manfaat lingkungannya menjadikan tempe contoh kuat mengapa tradisi pangan nabati perlu diakui dan dilestarikan di tingkat global,” ujar Dr. Ravinder.
Menurut Dr. Ravinder, salah satu hal paling mengesankan baginya adalah kemampuan acara ini mempertemukan berbagai kalangan.
“Pangan memiliki kekuatan luar biasa untuk membangun persahabatan, pemahaman, dan komunitas. Hari ini, kita tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi tradisi, cerita, dan nilai,” tuturnya.
Dalam acara tersebut, Feby Boediarto, co-founder Reculture Foods—sebuah startup tempe di Bay Area—mengisi sesi mengenai sejarah dan makna budaya tempe serta memandu lokakarya pembuatan tempe. Feby memperkenalkan tempe sebagai praktik pangan yang hidup—bukan sekadar produk kuliner, tetapi juga bagian dari identitas, lingkungan, dan pengalaman diaspora Indonesia.
The Book of Tempeh
Sementara itu, Chef Alan Ramdani, juru masak Wisma Indonesia San Francisco, memandu demonstrasi memasak sejumlah hidangan vegan Indonesia, yakni lodeh, tempe mendoan, dan sambal Lamongan. Ketiganya memperlihatkan keluasan rasa masakan Indonesia: dari kuah santan yang lembut, tempe berbalut tepung tipis, hingga sambal khas Jawa Timur yang memberi aksen segar dan pedas.Dalam jamuan makan siang, para peserta menikmati lodeh, tempe bacem, dan sambal Lamongan sebagai bagian dari pengenalan kuliner vegan Indonesia. Chef Martin Yan, chef dan penulis kuliner ternama yang dikenal luas melalui program Yan Can Cook, turut hadir dan berpartisipasi dalam demonstrasi memasak, menambah suasana hangat dan interaktif dalam acara tersebut.
KJRI San Francisco juga memberikan apresiasi kepada William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, penulis The Book of Tempeh yang pertama kali terbit pada 1979. Buku klasik tersebut dinilai berperan besar dalam membawa pengetahuan tentang tempe keluar dari Indonesia, terutama ke Amerika Serikat, dan kemudian memperluas apresiasi global terhadap tempe.
Bagi komunitas vegan San Francisco, tempe bukan bahan pangan yang sepenuhnya asing. Namun, acara ini memberi konteks baru: bahwa di balik sepotong tempe terdapat sejarah panjang, teknik fermentasi asli Indonesia, relasi pertanian lintas negara, dan warisan budaya yang terus hidup.
Melalui kegiatan ini, KJRI San Francisco berharap tempe semakin dikenal bukan hanya sebagai sumber protein nabati, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap pangan sehat dan berkelanjutan, tempe menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi kuat: rasa, cerita, dan jembatan antarbudaya.
Baca juga: Busana Tradisional Indonesia Tampil Memukau di APA Heritage Awards San Francisco