Menko Airlangga Hartarto. Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda.
Konsumsi Domestik Masih Kuat, Pemerintah Pede Ekonomi Tetap Kokoh di Tengah Krisis
Husen Miftahudin • 17 March 2026 11:24
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan ekonomi Indonesia masih tetap kokoh dan solid meskipun situasi geopolitik global saat ini terus memanas akibat konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
Ia menjelaskan, konsumsi domestik Indonesia masih kuat di angka 54 persen. Ini terlihat dari tingginya konsumsi belanja masyarakat didorong oleh program diskon Belanja di Indonesia Saja (BINA) serta momentum tunjangan hari raya (THR).
"Kita punya konsumsi domestik itu masih kuat 54 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan Mandiri Spending Index lebih dari 360,7. Kalau kita lihat ke pasar-pasar atau ke mall program diskon dari BINA juga jalan terus apalagi THR sudah digelontorkan," ujar Airlangga saat media gathering di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Senin, 16 Maret 2026.
Menghadapi gejolak konflik di Timur Tengah, Airlangga menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi risiko eksternal. Salah satu fokusnya adalah memastikan ketersediaan BBM dan mendorong efisiensi konsumsi energi melalui kebijakan work from home (WFH) serta penghematan anggaran di berbagai Kementerian/Lembaga (K/L).
"Arahan Presiden terkait dengan dampak perang Iran, AS, dan Israel Ini untuk mempercepat ketersediaan BBM serta mengambil langkah untuk penghematan konsumsi BBM. Penerapan work from home dan perlunya disiplin fiskal memastikan defisit tidak meningkat, bahkan kondisi idealnya adalah balance budget menjaga defisit di tiga persen," tutur dia.
| Baca juga: Kunci Pemerintah Upayakan Defisit APBN Tetap di Bawah 3% |
Swasembada solar
Dari sisi ketahanan energi, Airlangga mengungkapkan Indonesia telah mencapai swasembada solar dengan surplus sebesar 4,84 juta kiloliter. Ini didukung oleh produksi Kilang Balikpapan dan implementasi program B40.
"Dari segi bahan bakar, swasembada solar surplus 4,84 juta kiloliter dan ini karena juga ada produksi B40 Kilang Balikpapan yang besarnya 43,94 juta kiloliter dan kebutuhan nasionalnya 39,1 juta KL. Jadi untuk solar kita sudah swasembada, sudah surplus," terang dia.
Selain dari sisi energi, pemerintah mencatat nilai ekspor komoditas seperti batu bara, nikel, dan tembaga mencapai USD47 miliar, sehingga secara alami mampu menyeimbangkan defisit perdagangan migas yang berada di angka USD19,5 miliar.
"Terjadi natural hedging dari ekspor komoditas yang naik harga batubara, karet, nikel, tembaga, dan alumunium ini nilainya USD47 miliar dan defisit migasnya USD19,5 miliar. Jadi ini natural hedging antara ekspor dan defisit," tambah Airlangga.
Ia menjelaskan, cadangan devisa Indonesia masih sangat kuat di angka USD191,9 miliar atau setara dengan pembiayaan enam bulan ekspor. Rasio utang luar negeri juga berada di level aman 29,9 persen sementara utang dalam negeri sekitar 10 persen.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Investigasi perdagangan AS
Terkait isu perdagangan dengan Amerika Serikat, Airlangga menjelaskan pemerintah tengah bersiap menghadapi investigasi Section 301 dari AS mengenai praktik perdagangan. Ia telah berkomunikasi dengan Duta Besar AS dan akan mengundang Kadin serta Apindo untuk membahas solusi terbaik.