Bukan Asli Indonesia, dari Mana Asal Ikan Sapu-Sapu?

Pterygoplichthys disjunctivus. (Dok. U.S. Geological Survey)

Bukan Asli Indonesia, dari Mana Asal Ikan Sapu-Sapu?

Riza Aslam Khaeron • 17 April 2026 16:21

Jakarta: Sebagai negara kepulauan, Indonesia dianugerahi sekitar 70.000 aliran sungai yang membentang di berbagai wilayah. Kekayaan geografis ini menjadikan Indonesia sebagai rumah bagi ribuan spesies ikan air tawar yang beragam.
 
Belakangan ini, perhatian publik tertuju pada salah satu spesies dari keluarga Loricariidae dan genus Pterygoplichthys yang kerap disebut plecostomus dalam perdagangan internasional, yang di tanah air lebih populer dengan sebutan ikan sapu-sapu.

Meski keberadaannya sangat umum ditemukan, ikan ini sebenarnya bukan merupakan spesies asli Indonesia dan sering dikategorikan sebagai jenis invasif.

Kondisi ini memicu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengambil langkah tegas dengan menjaring dan mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di perairan ibu kota, karena dianggap telah merusak keseimbangan ekosistem sungai dan menyumbat saluran air di Jakarta.

"Ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi yang bersifat invasif sesuai Permen KP 19 tahun 2020. Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan karena sifatnya merusak dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai atau danau," kata Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, kepada wartawan, Rabu, 15 April 2026.

Lantas, dari manakah asal-usul aslinya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
 

Darimana Asal Ikan Sapu-Sapu dan Bagaimana Bisa Menyebar?


Pterygoplichthys disjunctivus. (Mexican-fish.com)

Ikan sapu-sapu yang kini jamak ditemukan di sungai, kanal, dan waduk di Indonesia bukanlah ikan asli perairan setempat.

Sebutan ini umumnya merujuk pada kelompok sailfin catfish dari genus Pterygoplichthys, terutama spesies Pterygoplichthys pardalis dan Pterygoplichthys disjunctivus, yang berasal dari Amerika Selatan, khususnya sungai Amazon, dan diduga mulai masuk ke Indonesia dari tahun 1970-an hingga 1980-an.

Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Juri Patoka dkk. melalui EDP Sciences pada tahun 2020, penyebaran ikan sapu-sapu terutama berkaitan erat dengan perdagangan ikan hias.

Karena penampilan karakteristiknya yang menarik, tubuhnya yang khas, mulut pengisap, serta anggapan bahwa ikan ini dapat membantu membersihkan alga membuatnya populer dipelihara di akuarium, meskipun ada juga tujuan lain seperti konsumsi manusia.

Namun, popularitas inilah yang justru menjadi jalur utama penyebarannya.

Penelitian Patoka mencatat bahwa banyak populasi non-asli muncul setelah ikan tersebut dilepaskan dari akuarium atau lolos dari fasilitas budidaya hingga akhirnya berkembang biak di alam liar, termasuk di Indonesia.
 
Baca Juga:
Pramono Berencana Bentuk PJLP Tangani Ikan Sapu-sapu

Selain faktor pelepasan dari akuarium dan kebocoran tempat budidaya, peneliti juga menemukan satu jalur unik di Lombok, yakni pelepasan ikan sapu-sapu dengan tujuan untuk mengatasi eceng gondok.

"Sayangnya, ikan sapu-sapu adalah penghuni dasar air, sementara eceng gondok adalah tumbuhan terapung. Oleh karena itu, tujuan pengenalan tersebut sepenuhnya salah dan secara paradoks justru menyebabkan kemunculan spesies invasif baru di perairan tawar Lombok," tulis Patoka dkk. dalam jurnal mereka.

Setelah masuk ke perairan umum, ikan sapu-sapu relatif mudah bertahan hidup dan berkembang biak dengan cepat.

Melansir laman Texas Invasive Species Institute, ikan sapu-sapu mampu menghasilkan lebih dari 300 telur di dalam sarangnya yang hanya membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 20 hari untuk menetas. Selain kemampuan reproduksi yang tinggi, tingkat kelangsungan hidup benihnya sangat baik berkat perlindungan intensif dari induknya.

Di Indonesia sendiri, larangan impor sejumlah ikan dari genus Pterygoplichthys secara ilegal telah diatur secara resmi dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)