Aksi Walkout Massal Delegasi Sebelum Netanyahu Pidato di PBB

Para delegasi memutuskan keluar ruangan Sidang Majelis Umum PBB sesaat Benjamin Netanyahu memulai pidatonya. Foto: Fox News

Aksi Walkout Massal Delegasi Sebelum Netanyahu Pidato di PBB

Fajar Nugraha • 25 September 2026 04:45

New York: Puluhan delegasi berbondong-bondong keluar dari ruang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) di New York, saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu naik ke podium untuk memberikan pidato.

Aksi walkout atau keluar ruangan sebagai bentuk protes massal yang dilakukan para delegasi sebelum pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Majelis Umum PBB memicu tanggapan keras dari pemimpin Israel tersebut.

Seruan protes juga terdengar di dalam ruangan saat Presiden Majelis Umum PBB meminta ketertiban sidang. Sontak saat para delegasi memutuskan walkout, Netanyahu hanya bisa mencibir dan disambut teriakan dari mereka yang ada di ruangan.

Setelah naik ke podium, Netanyahu berkata, "Sebelum saya mulai, ada satu pengumuman singkat: jika ada lagi pengecut moral yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan lakukan sekarang”.

Pemimpin Israel itu terus melontarkan pernyataan keras sepanjang sisa pidatonya. Ia mengawali dengan memaparkan apa yang disebutnya sebagai taruhan besar dalam konflik terkait Iran. Ia menyatakan bahwa "menghancurkan fasilitas nuklir Iran adalah hal yang sulit -,sangat sulit dilakukan,- namun bagi saya, itu adalah salah satu keputusan termudah yang pernah saya ambil sebagai perdana menteri. Karena jika kami tidak melakukannya, kita semua akan mati."

"Sekarang, maukah Anda mendengar ironi terbesarnya?" lanjut Netanyahu, seperti dikutip dari Fox News, Jumat 25 September 2026.

"Dalam membela diri, Israel juga membela banyak negara yang delegasinya baru saja meninggalkan ruangan ini. Faktanya, saya ingin Anda tahu bahwa banyak pemimpin negara bahkan berterima kasih kepada kami secara pribadi karena telah melumpuhkan kemampuan nuklir Iran,” imbuhnya.

"Sulit membayangkan kemunafikan yang lebih mencengangkan dari ini, namun itulah kenyataannya," ujar Netanyahu.

Aksi protes ini terjadi di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan kritik terhadap tindakan Israel di kawasan tersebut. Pidato Netanyahu memicu protes dari para delegasi di dalam ruang sidang PBB maupun para demonstran di luar gedung, termasuk selebritas Hollywood Elliot Page dan Susan Sarandon.

Terlepas dari berbagai protes tersebut, sang perdana menteri menyampaikan pesan yang penuh sikap menantang, dengan mengatakan kepada para pengkritiknya, "Anda tidak tahu apa yang sedang Anda bicarakan."

Menuduh Mamdani

Ia menggambarkan perjuangan Israel sebagai upaya demi kelangsungan hidupnya sendiri serta kelangsungan hidup seluruh bangsa di dunia dalam menghadapi kaum "biadab” selama pidatonya.

"Selama tiga tahun terakhir, tentara kita yang heroik telah bertempur siang dan malam dalam perang di tujuh front. Apakah Anda tahu negara lain seukuran New Jersey yang mampu berperang di tujuh front? Dan selama tiga tahun—tujuh front: Hamas, Hizbullah, Houthi, Iran, milisi di Irak, milisi di Suriah, serta teroris Palestina di Yudea dan Samaria—mereka semua bersatu melawan kita untuk melenyapkan kita dari muka bumi, namun mereka gagal. Karena alih-alih runtuh, kita justru melancarkan pukulan telak terhadap mereka semua, bersama sahabat-sahabat hebat kita dari Amerika,” ujar Netanyahu.

"Kepada para pengunjuk rasa di luar sana, kepada para delegasi munafik yang meninggalkan ruangan ini. Saya bertanya, 'Di mana Anda saat para tiran Iran membantai dan melukai puluhan ribu warga sipil Iran yang tak bersenjata? Saat mereka membantai dan melukai ribuan rakyat mereka sendiri? Di mana Anda? Apakah Anda mengorganisir unjuk rasa besar-besaran atau aksi mogok makan? Apakah Anda berunjuk rasa di depan kantor perwakilan Iran untuk PBB? Apakah Anda angkat bicara -,misalnya,- membela umat Kristen yang dianiaya di Iran dan di seluruh Timur Tengah?' Tidak, tidak, Anda tidak melakukannya, karena Anda hanyalah pengunjuk rasa hak asasi manusia gadungan," ujar Netanyahu.

Ia juga berterima kasih kepada Presiden Donald Trump karena telah memerintahkan tindakan AS terhadap Iran.

"Dalam pertempuran melawan kaum barbar ini, kami tidak memiliki mitra yang lebih hebat daripada Presiden Trump," kata Netanyahu.

"Saya berterima kasih kepadanya. Saya berterima kasih atas kepemimpinannya yang berani. Ia dengan berani menghadapi ancaman besar bagi Amerika, Israel, dan dunia,” ucap Netanyahu.

"Ia memahami bahwa jika dibiarkan tanpa perlawanan, para ayatollah fanatik yang meneriakkan 'Mati Amerika, mati Israel' pada akhirnya akan mewujudkan fantasi gila mereka. Jadi, Israel dan Amerika bertindak bersama, bukan hanya untuk melindungi diri kita sendiri, tetapi juga untuk menyelamatkan peradaban," ujar Netanyahu.

Netanyahu juga mengkritik pihak-pihak penentang dalam apa yang ia sebut sebagai "front kedelapan dalam perang ini," yang menurutnya adalah "perang demi kebenaran." Ia mengatakan bahwa "perang" ini "berlangsung di media dunia dan di media sosial."

Beralih ke kritik dari tokoh-tokoh AS, Netanyahu menyoroti Zohran Mamdani -,seorang sosialis yang ia sebut antisemit,- serta influencer Hasan Piker. Sambil berbicara langsung kepada Mamdani, Netanyahu berkata, "Mamdani, Anda berusaha mencegah saya datang ke sini. Anda mencoba membungkam saya. Nah, Anda tidak bisa membungkam saya. Anda tidak bisa membungkam kebenaran,”

(Fajar Nugraha)