Vanaya Institute menggelar Workshop Coaching for Productivity di Gedung D, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI). (Metrotvnews.com/ Antonio)
Vanaya Institute dan GNIK Gagas Satu Productivity Coach di Setiap Perusahaan
Antonio • 26 September 2026 15:31
Bekasi: Vanaya Institute bersama Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) mendorong penerapan konsep One Company One Productivity Coach di perusahaan sebagai bagian dari Gerakan Produktivitas Nasional.
Vanaya Institute merupakan coaching school yang fokus pada pengembangan dan sertifikasi coach, termasuk one-on-one coaching dan team coaching. Lembaga ini mengembangkan metode Brain-Focused Coaching berbasis neuroscience melalui Vanaya NeuroLab, pusat riset brain and behavior milik Vanaya.
President Vanaya & Co sekaligus CEO Vanaya Institute, Lyra Puspa, PhD, mengatakan program One Company One Productivity Coach bertujuan mendorong setiap perusahaan setidaknya memiliki satu orang yang berperan sebagai productivity coach bagi timnya.
Baca Juga :
"Kita berharap setiap manajer, setiap pemimpin di setiap organisasi adalah productivity coach bagi timnya masing-masing. Tapi at least minimal, satu company itu satu productivity coach," kata Lyra dalam kegiatan Workshop “Coaching for Productivity” di Gedung D, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI), Sabtu, 26 September 2026.
Menurut Lyra, gerakan tersebut dilatarbelakangi kondisi produktivitas tenaga kerja Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara.
Indonesia memiliki jumlah angkatan kerja aktif dan produktif yang besar, tetapi tingkat produktivitasnya masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, angkatan kerja aktif dan produktif Indonesia merupakan yang terbesar keempat di dunia.
Namun, berdasarkan produktivitas yang diukur melalui GDP per jam kerja (per man-hour), Indonesia berada di posisi kelima di Asia Tenggara. Sementara berdasarkan jumlah jam kerja aktif per minggu, Indonesia disebut berada di posisi kedua terbawah di Asia Tenggara, hanya di atas Timor Leste.
"Ini menunjukkan betapa kita punya banyak sekali sebenarnya angkatan kerja usia produktif yang seharusnya jadi bonus demografi, tapi ini justru menjadi tidak produktif," ujar Lyra.
Lyra mengatakan peningkatan produktivitas perlu dimulai dari individu melalui pembentukan etos kerja dan agile habit, yakni kebiasaan kerja yang adaptif terhadap perkembangan zaman. "Prinsipnya adalah bagaimana kita memasyarakatkan produktivitas dan memproduktifkan masyarakat dengan membangun dua hal, membangun etos kerja dan membangun agile habit," ungkap Lyra.
Lyra berharap program One Company One Productivity Coach yang digagas bersama GNIK dapat meningkatkan etos kerja setiap angkatan kerja. Serta, setiap angkatan kerja memiliki budaya kerja yang juga agile sehingga lebih adaptif mengikuti perkembangan zaman. “InsyaAllah kita menjadi bangsa yang lebih produktif,” ujar Lyra.
Produktivitas tidak dimulai ketika seseorang sudah berada di tempat kerja. “Tapi itu menjadi sebuah kebiasaan yang terbangun menjadi kebiasaan (habit) per individu dan kita harapkan menjadi budaya kita secara bangsa,” jelas Lyra.
.jpeg)
Vanaya Institute menggelar Workshop Coaching for Productivity di Gedung D, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI). (Metrotvnews.com/ Antonio)
Targetkan 15 Kota
Lyra mengatakan Vanaya Institute menargetkan Gerakan Produktivitas Nasional dapat diperluas ke sedikitnya 15 kota hingga 2027. Pada 2026, program Coaching for Productivity dilaksanakan di lima kota. Setelah Jakarta dan Semarang, Bekasi menjadi kota ketiga.Selanjutnya, program dijadwalkan berlangsung di Surabaya pada November dan Yogyakarta pada Desember 2026. "Tahun depan target kita ada 10. Jadi sampai dengan tahun depan, minimal 15 kota kita sasar," ujar Lyra.
Program tersebut selanjutnya akan diperluas ke berbagai kota di luar Jawa hingga mencakup wilayah Indonesia lainnya, terutama daerah dengan jumlah tenaga kerja, perusahaan dan kawasan industri yang besar.
"Semoga itu bisa membantu agar setiap leader itu bisa menjadi coach bagi timnya, agar timnya lebih produktif, dan keseluruhan Indonesia menjadi lebih produktif juga," terangnya.

Vanaya Institute menggelar Workshop Coaching for Productivity di Gedung D, Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI). (Metrotvnews.com/ Antonio)
Target ke 7.000 Perusahaan di Kabupaten Bekasi
Direktur GNIK/PPIK Kabupaten Bekasi, Drs. Marwito, M.Si, mengatakan penerapan One Company One Productivity Coach memiliki relevansi besar dengan kondisi Kabupaten Bekasi yang menjadi salah satu kawasan industri utama. Menurut Marwito, terdapat tidak kurang dari 7.000 perusahaan di Kabupaten Bekasi."Di Kabupaten Bekasi itu ada tidak kurang dari 7.000 perusahaan. Ketika satu perusahaan satu coach yang diprogram oleh Vanaya Institute, saya yakin produktivitas negeri ini akan melompat," jelas Marwito.
Ia mengatakan keberadaan satu productivity coach di setiap perusahaan dapat membantu membangun masyarakat yang produktif sekaligus mendorong produktivitas di tingkat perusahaan.
"Ketika satu coach produktivitas satu perusahaan, sangat-sangat mendukung bagaimana memasyarakatkan produktivitas untuk memproduktifkan masyarakat," ujar Marwito.
Marwito menilai peningkatan produktivitas bukan hanya menjadi kepentingan perusahaan dan pekerja, tetapi juga berkaitan dengan daya saing Indonesia. Oleh karena itu, ia mendorong agar gerakan tersebut mendapat dukungan regulasi pemerintah.
"Memasyarakatkan produktivitas, memproduktifkan masyarakat harus menjadi gerakan nasional dan harus didukung dengan regulasi yang sifatnya mandatory oleh negara. Artinya dunia akademis, dunia industri, dunia usaha, dan dunia organisasi harus menjadi bagian yang menggerakkan produktivitas ini secara masif," ucap Marwito.