Pedagang baju adat di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Metrotvnews.com/Nattasya Amani Vrazeti
Pedagang Baju Adat Sebut Penjualan Cenderung Stabil Menjelang 17 Agustusan
Nattasya Amani Vrazeti • 7 August 2026 14:36
Jakarta: Penggunaan baju adat setiap bulan Agustus identik dengan maraknya perayaan kemeriahan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, salah satu pedagang baju adat di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Nia (60) mengaku fenomena pembeli baju adat tahun ini masih stabil.
"Kalau zaman dulu sebelum krismon itu memang mau Kartini atau 17-an ramai, orang antre-antre mau belanja. Tapi kalau sekarang enggak ada yang kayak gitu-gitu, ya stabil lah," ujar Nia kepada Metrotvnews.com di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026
Meski tak ada lonjakan ekstrem menjelang 17-an, kata Nia, roda bisnisnya tetap berputar konsisten berkat adanya regulasi sekolah.
“Kan dari sekolahan sekarang harus memakai (baju adat) tiap seminggu atau sebulan sekali. Apalagi kalau di Jakarta pakai baju Betawi, kalau Jawa Barat pakai baju Sunda,” jelas dia.
Adapun, Nia mengungkapkan, ia menjual beraneka ragam baju adat dari seluruh daerah di Indonesia secara lengkap beserta aksesorisnya. Penjualan dengan sistem jual lepas dengan harga yang ditawarkan juga bervariasi.
“Kalau harga itu ya tergantung ya, kalau di sini teh segmennya kan kepengennya bagus murah sebetulnya mah ya. Tapi ya kita tuh diadaian paling enggak di antara 150 sampai ada yang 200, ya tergantung adat sih sebetulnya mah,“ ungkap Nia.

(Pedagang baju adat di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Metrotvnews.com/Nattasya Amani Vrazeti)
Pembeli mayoritas kelompok usia TK
Lebih lanjut, Nia menyebut mayoritas pembeli yang mendatangi toko baju adatnya adalah kelompok anak usia TK. Pembelian untuk kelompok usia ini kerap terjadi dalam jumlah banyak karena diwajibkan oleh pihak sekolah.“Kebanyakan orang TK ya. Anak TK itu, ya anak laki, anak perempuan ya sama. Kadang-kadang dari sekolahan itu, seandainya sekolahnya ada berapa puluh ya mereka kelas satu seandainya ada 50 ya itu 50 set. Nanti ada kelasnya ada 30 ya 30, gitu loh,” tutur Nia menambahkan.
Kondisi senada juga disampaikan oleh pedagang lainnya, Setia (25). Ia mengaku konsumennya datang dari berbagai kalangan mulai dari perias ataupun perorangan yang mencari pakaian adat untuk anak-anak maupun dewasa.
“Yang beli rata-rata perias dan perorangan. Ada dewasa dan anak-anak. Semua daerah Indonesia 34 provinsi lengkap. Rp100 ribuan sampai Rp500 ribuan sudah termasuk aksesoris dan baju adatnya,” kata dia.