Pasukan Israel lakukan operasi di Lebanon. Foto: Anadolu
Ambulans Diserang Israel, Petugas Medis Lebanon Tewas
Fajar Nugraha • 4 June 2026 16:10
Nabatieh: Seorang petugas medis tewas dan satu lainnya terluka setelah serangan Israel yang menargetkan tim ambulans di Kota Zebdine, Distrik Nabatieh, Lebanon selatan.
Informasi tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan Lebanon pada Kamis 4 Juni 2026, dini hari waktu setempat.
Kementerian Kesehatan menyatakan serangan tersebut menyasar tim medis yang sedang bertugas di lapangan. Insiden itu menjadi serangan keempat yang menargetkan petugas medis dan fasilitas kesehatan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Dilansir dari media Anadolu Agency, serangan terbaru terjadi ketika Israel dan Lebanon baru saja menyepakati perpanjangan gencatan senjata yang masih rapuh.
Kesepakatan itu juga mencakup pembentukan zona percontohan yang menempatkan wilayah tertentu di bawah kendali penuh Angkatan Bersenjata Lebanon melalui negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat di Washington.
Sebelumnya, pejabat Lebanon dan Israel menggelar putaran keempat perundingan yang difasilitasi Amerika Serikat. Pembicaraan tersebut bertujuan mempertahankan gencatan senjata serta menyelesaikan berbagai persoalan keamanan yang belum terselesaikan.
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli, Israel disebut terus melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon hampir setiap hari. Situasi keamanan di wilayah perbatasan pun masih belum stabil.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan 3.516 orang dan melukai 10.674 lainnya di seluruh Lebanon. Korban mencakup warga sipil serta petugas yang terlibat dalam layanan kemanusiaan dan kesehatan.
Lebanon juga menuduh Israel masih menduduki sejumlah wilayah di bagian selatan negara itu. Wilayah tersebut mencakup area yang telah lama dikuasai Israel serta daerah yang direbut selama konflik 2023–2024, sementara pasukan Israel dilaporkan terus bergerak beberapa kilometer ke dalam wilayah Lebanon selama konflik berlangsung.
(Keysa Qanita)