Mojtaba Khamenei: Musuh Iran Alihkan Strategi ke Perang Hibrida

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Ali Khamenei. Foto: SAMA

Mojtaba Khamenei: Musuh Iran Alihkan Strategi ke Perang Hibrida

Fajar Nugraha • 5 June 2026 10:47

Teheran: Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa para musuh Iran kini beralih ke taktik perang hibrida setelah mengalami kekalahan yang memalukan dari Angkatan Bersenjata Iran.

Terkait hal tersebut, ia mendesak pentingnya persatuan nasional dan kewaspadaan seluruh elemen bangsa guna menggagalkan plot musuh.

Pernyataan tersebut disampaikan Ayatollah Khamenei melalui sebuah pesan tertulis dalam rangka memperingati hari jadi ke-37 wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Imam Ayatollah Ali Khomeini.

Momentum peringatan yang berpusat di makam Imam Khomeini di selatan Teheran tersebut dihadiri oleh jutaan warga Iran dari berbagai lapisan masyarakat serta para pengagumnya dari negara lain, guna memberikan penghormatan sekaligus memperbarui kesetiaan mereka pada cita-cita Revolusi 1979.

Ayatollah Khamenei menegaskan bahwa musuh yang dinilainya jahat tersebut telah merasakan kekalahan serta penghinaan yang mendalam saat berhadapan dengan militer Iran, sehingga kini mereka mencoba mencari kompensasi melalui strategi perang hibrida.

"Musuh yang keji, setelah dikalahkan dalam konfrontasinya dengan putra-putra pemberani Anda di Angkatan Bersenjata dan mengalami penghinaan yang mendalam serta berarti baik di medan perang maupun di arena publik, telah memusatkan upayanya pada dua tujuan dalam kerangka perang hibrida,  melemahkan ketahanan rakyat dan menciptakan salah urus di antara pejabat negara," kata Ayatollah Khamenei, seperti dikutip Press TV, pada Jumat, 5 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa sistem dominasi global yang mendirikan pos militer bernama Israel hampir 80 tahun lalu tidak dapat menerima kehadiran Iran yang kuat dan mandiri di perbatasan timur wilayah tersebut, sehingga mereka mengerahkan segala upaya untuk menjegal kemajuan Iran.

Lebih lanjut, Pemimpin Tertinggi Iran ini memperingatkan bahwa musuh saat ini tengah berupaya menyebarkan keraguan, frustrasi, ketakutan, ketidakpercayaan, serta perpecahan di tengah masyarakat.

Khamenei menekankan bahwa seluruh warga Iran wajib menggagalkan rencana jahat tersebut melalui keteguhan sikap, wawasan yang luas, serta dengan menjaga persatuan dan kepercayaan timbal balik tanpa menggaungkan propaganda musuh. Khamenei juga menggarisbawahi peran krusial yang diemban oleh otoritas pemerintah Iran dalam mendukung ketahanan nasional tersebut.

Menurutnya, tindakan apa pun yang memicu pesimisme dan kekecewaan di kalangan masyarakat dinilai sebagai bentuk bantuan nyata bagi musuh negara. Ayatollah Khamenei menyebut peringatan wafatnya Imam Khomeini sebagai momentum berharga untuk merenungkan kembali pemikiran dari sosok tokoh besar yang dinilainya belum sepenuhnya dipahami secara luas tersebut.

Ia menggambarkan mendiang Imam Khomeini sebagai figur karismatik dengan pemahaman mendalam yang jalannya akan terus menerangi masa depan benderang Iran. Kendati demikian, ia menyayangkan banyak generasi muda saat ini yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Imam Khomeini secara langsung, bahkan sebagian masyarakat yang hidup pada zamannya pun dinilai belum seutuhnya memahami kedalaman kepribadian serta prinsip-prinsip perjuangannya.

Menurut Ayatollah Khamenei, gerakan bangkit demi Tuhan merupakan fondasi utama dari mazhab pemikiran Imam Khomeini, di mana aspek bimbingan, pendidikan, serta pengaruh kuat pada masyarakat menjadi warisan terpenting dalam hidupnya.

Dalam pesannya, Khamenei melemparkan pertanyaan retoris mengenai kekuatan besar apa yang mampu membangunkan sebuah bangsa yang sempat terbuai oleh arogansi kolonialisme pada 5 Juni 1963 di tengah penindasan dan ketergantungan penuh pada Barat, serta kekuatan inspirasi apa yang mampu menggerakkan jutaan orang ke jalanan untuk menyambut sang Imam pada 1 Februari 1979 dan melepas kepergiannya pada 4 Juni 1989.

Ia kemudian mengaitkannya dengan contoh terbaru, di mana sebuah kekuatan kokoh mampu memobilisasi bangsa Iran sejak 1 Maret agar tetap bertahan dalam satu barisan setelah lebih dari tiga bulan demi menuntut keadilan bagi mendiang pemimpin mereka yang mati syahid, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, sekaligus guna menjaga keutuhan sistem Islam dan tanah air.

Ayatollah Khamenei menegaskan bahwa Imam Khomeini dan mendiang Ayatollah Ali Khamenei adalah sosok yang berhasil menemukan serta membangkitkan bakat dan kesiapan luar biasa tersebut dari dalam diri bangsa Iran.

Khamenei menyatakan bahwa mazhab pemikiran yang diusung oleh mendiang Ayatollah Ali Khamenei dan Imam Khomeini berada pada tingkat yang setara, di mana para pengikutnya kini berdiri siap dalam barisan untuk menegakkan kebenaran, menghapuskan kebatilan, dan berjuang di jalan yang tercerahkan ini.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa jika Imam Khomeini bertindak sebagai arsitek dari perkembangan bersejarah di Iran dan dunia Muslim, maka mendiang Ayatollah Ali Khamenei bertugas meningkatkan dan memperluas warisan tersebut. Ayatollah Khamenei juga mengingatkan kewajiban kemanusiaan dan islami bangsa Iran untuk terus mendukung kaum yang tertindas, serta menyebut sistem arogan pimpinan Amerika Serikat akan selalu memiliki masalah dengan identitas unik Iran yang menolak untuk tunduk.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)