Pelaku Pasar Modal hingga Generasi Muda Diajak Bangun Patriotisme Ekonomi

Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Istimewa.

Pelaku Pasar Modal hingga Generasi Muda Diajak Bangun Patriotisme Ekonomi

Arga Sumantri • 5 June 2026 17:39

Jakarta: Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak seluruh pelaku pasar modal, investor, akademisi, dan generasi muda untuk membangun patriotisme ekonomi melalui penguatan etika, integritas, dan kepercayaan publik sebagai fondasi utama kemajuan ekonomi nasional.

Ajakan tersebut disampaikan Ibas dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk "Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik: Dari Investor Menjadi Pemilik Masa Depan Indonesia” yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

"Geoekonomi menunjukkan bahwa pertarungan utama saat ini bukan lagi soal senjata, melainkan soal modal, data, dan investasi. Dalam kondisi seperti ini, satu hal menjadi yang paling krusial, yaitu kepercayaan," ujar Ibas dalam keterangannya, Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu, kepercayaan merupakan modal yang tidak kalah penting dibandingkan sumber daya alam maupun kekuatan finansial. Kepercayaan menjadi faktor yang menentukan masuk atau keluarnya investasi, sekaligus menjadi fondasi stabilitas ekonomi suatu negara. Mengutip ekonom peraih Nobel Robert Shiller, ia mengatakan bahwa unsur terpenting dalam ekonomi adalah kepercayaan.

“Ekonomi tidak berdiri di atas modal saja, tetapi berdiri di atas kepercayaan. Ketika kepercayaan tumbuh, investasi akan datang. Ketika investasi datang, pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih cepat,” bebernya.

Ia memaparkan Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia didukung oleh populasi besar, bonus demografi, pasar domestik yang kuat, serta sumber daya alam yang melimpah.

Selain itu, stabilitas fiskal dan moneter yang terus dijaga menjadi modal penting menghadapi berbagai tantangan global yang masih berlangsung.

“Indonesia memiliki semua faktor penggerak yang dibutuhkan untuk maju. Kita memiliki sumber daya, pasar yang besar, generasi muda yang produktif, dan ketahanan ekonomi yang terbukti mampu menghadapi berbagai krisis,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi nasional harus bermuara pada tujuan bernegara sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya diukur dari angka, tetapi harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Dalam konteks pasar modal, Ibas menilai pasar modal merupakan cerminan tingkat kepercayaan terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Ia mencontohkan bagaimana pasar modal Indonesia terus berkembang dan menunjukkan daya tahan yang kuat setelah melewati berbagai periode krisis.

"Kita memang masih berkembang dibandingkan pasar global yang lebih maju, tetapi justru di situlah letak peluang besar Indonesia," katanya.

Ia menambahkan bahwa di tingkat global, berbagai indikator investasi dan peringkat kredit menjadi barometer yang menunjukkan tingkat kepercayaan dunia terhadap sebuah negara. Oleh sebab itu, penerapan tata kelola yang baik, transparansi, dan akuntabilitas harus terus diperkuat.

"Good governance bukan pilihan, melainkan keharusan. Kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan narasi, tetapi harus dibuktikan melalui tata kelola yang baik, konsistensi kebijakan, dan integritas seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.

Diskusi Kebangsaan bertajuk "Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik: Dari Investor Menjadi Pemilik Masa Depan Indonesia” . Istimewa.

Peran strategis investor

Ibas menegaskan investor memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Investor sejatinya bukan sekadar pencari keuntungan, melainkan bagian dari pemilik masa depan bangsa.

"Investor adalah pemilik masa depan. Trader adalah penjaga likuiditas dan efisiensi pasar. Namun keduanya wajib berpijak pada etika. Tanpa etika, pasar kehilangan kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, pasar kehilangan masa depan," tegasnya.

Menurutnya, inilah yang disebut sebagai patriotisme ekonomi, yakni ketika aktivitas investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat literasi keuangan, memperluas partisipasi investor domestik, menjaga integritas pasar modal, serta membangun ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan.

"Mari kita bangun bersama literasi keuangan yang kuat, investor domestik yang tangguh, pasar yang berintegritas, dan ekonomi yang berkelanjutan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi bangsa yang dipercaya," ujarnya.

Menutup sambutannya, Ibas menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia apabila seluruh elemen bangsa mampu menjaga etika, integritas, dan kepercayaan sebagai budaya bersama.

"Jika etika menjadi fondasi, integritas menjadi karakter, dan kepercayaan menjadi budaya, maka Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi besar dunia. Dari investor menjadi pemilik, dari pemilik menjadi penggerak, dan dari penggerak menjadi pembangun masa depan Indonesia," tegasnya.

(Arga Sumantri)